Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, pernah mendengar istilah kehamilan ektopik? Kehamilan ektopik sering juga disebut sebagai kehamilan di luar kandungan. Lantas apa yang menjadi penyebab hamil di luar kandungan?
Kehamilan ektopik adalah kondisi medis di mana embrio berkembang di luar rongga rahim. Sekitar 95 persen kasus kehamilan ektopik terjadi di tuba falopi, tapi bisa juga terjadi di ovarium, serviks, atau rongga perut. Kondisi ini tidak dapat berkembang menjadi kehamilan normal dan berpotensi mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan tepat.
Penyebab hamil di luar kandungan
Sayangnya, masalah kehamilan di luar kandungan sering kali luput dari perhatian, padahal kondisi ini bisa berbahaya karena dapat menyebabkan pecahnya tuba falopi atau organ tempat embrio berkembang. Hal ini dapat mengakibatkan pendarahan internal yang mengancam jiwa dan memerlukan tindakan medis darurat.
Agar Moms lebih waspada, yuk, kenali faktor risiko dan penyebab hamil di luar kandungan berikut ini.
1. Riwayat infeksi panggul
Riwayat infeksi panggul seperti pelvic inflammatory disease (PID) akibat bakteri (misalnya, klamidia atau gonore) bisa merusak tuba falopi dan menghambat pergerakan sel telur ke rahim. Infeksi ini sering kali disebabkan oleh bakteri yang ditularkan melalui hubungan seks.
2. Endometriosis
Endometriosis atau kondisi di mana jaringan yang melapisi rahim tumbuh di luar rahim dapat menyebabkan perlengketan dan penyumbatan tuba falopi. Endometriosis menciptakan lingkungan yang tidak optimal untuk perjalanan sel telur menuju rahim.
3. Riwayat operasi di area panggul atau tuba falopi
Bagi wanita yang pernah menjalani rangkaian operasi dan operasi tersebut meninggalkan jaringan parut, kondisi ini bisa membuat jalur menuju rahim terganggu, sehingga terjadilah kehamilan di luar kandungan.
4. Kehamilan ektopik sebelumnya
Wanita yang pernah mengalami kehamilan di luar kandungan akan memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami kehamilan ektopik untuk kedua kalinya.
5. Penggunaan alat kontrasepsi tertentu
Meski jarang, penggunaan IUD (spiral) yang masih terpasang saat terjadi pembuahan bisa meningkatkan risiko kehamilan ektopik.
Baca juga: Penyebab Alat Kontrasepsi Gagal dan Menyebabkan Kehamilan
6. Perawatan kesuburan atau teknologi reproduksi
Program perawatan kesuburan atau teknologi reproduksi seperti program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF) juga bisa meningkatkan risiko hamil di luar kandungan.
Baca juga: Kehamilan menggunakan prosedur IVF dan IUI, Apa Bedanya?
7. Kebiasaan merokok dan minum alkohol
Studi menyebutkan bahwa kebiasaan merokok dan minum alkohol bisa memengaruhi fungsi tuba falopi dan menghambat perjalanan sel telur ke rahim. Dengan kata lain, Anda akan lebih berisiko mengalami hamil di luar kandungan apabila memiliki kebiasaan tersebut.
8. Gangguan hormonal
Ketidakseimbangan hormon dapat memengaruhi pergerakan sel telur melalui tuba falopi. Hormon estrogen dan progesteron berperan penting dalam mengatur kontraksi otot polos tuba falopi yang membantu mendorong sel telur menuju rahim.
Gejala hamil di luar kandungan yang perlu diwaspadai
Gejala awal
Mengenali gejala awal kehamilan ektopik sangat penting untuk mendapatkan penanganan segera. Berikut ini beberapa gejala awal yang perlu diwaspadai.
- Nyeri perut bagian bawah yang tajam atau kram
- Pendarahan vagina yang tidak normal
- Nyeri bahu (akibat pendarahan internal)
- Pusing atau pingsan.
Baca juga: 7 Gejala Kehamilan yang Bisa Jadi Tanda Bahaya bagi Bumil
Gejala darurat
Jika mengalami gejala berikut, Moms perlu segera mencari bantuan medis.
- Nyeri perut yang sangat hebat
- Pendarahan hebat
- Syok atau kehilangan kesadaran
- Detak jantung yang cepat
- Kulit pucat dan berkeringat dingin.
Itulah beberapa penyebab dan faktor risiko hamil di luar kandungan yang penting untuk Anda ketahui. Meski kondisi ini jarang terjadi, penting bagi setiap wanita untuk lebih waspada terhadap tanda-tanda awal kehamilan ektopik.
Kebanyakan wanita yang mengalami kehamilan ektopik masih memiliki peluang untuk hamil di masa depan, terutama jika kondisi tersebut ditangani dengan cepat dan tepat. Namun, risiko kehamilan ektopik berulang bisa meningkat, sehingga penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan lanjutan secara rutin. (M&B/YS/WR/Foto: Freepik)
