Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Tak hanya orang dewasa, gangguan bipolar (GB) dan skizofrenia juga bisa dialami anak-anak dan remaja. Di Indonesia sendiri belum ada data pasti tentang kasusnya. Namun, dalam survei yang dilakukan terhadap para psikiater di Indonesia, 40-45% dari mereka mengatakan bahwa kasus gangguan bipolar pada remaja adalah 1 dari 5 kasus terbanyak yang datang untuk berkonsultasi di layanan psikiatri anak dan remaja.
Sementara itu, 20-25% dari para psikiater melaporkan bahwa kasus skizofrenia awitan dini (Early onset schizophrenia/EOS) merupakan 1 dari 5 kasus terbanyak yang datang untuk berkonsultasi selama mereka menjalani praktik klinik sehari-hari.
Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ, SubSp A.R. (K), MIMH, Guru Besar Psikiatri Subspesialis Anak dan Remaja FKUI-RSCM, mengatakan, bila tidak ditangani dengan tepat, kondisi kesehatan mental seperti ini bisa berdampak pada kehidupan anak-anak dan remaja yang mengalaminya.
“Kasus yang muncul lebih awal atau early-onset terjadi di usia yang lebih muda, dan sering kali tidak terdiagnosis karena kurangnya kesadaran atau salah mengartikan gejala sebagai perilaku remaja yang umum. Kondisi kesehatan mental seperti ini bisa mengganggu perkembangan, pendidikan, dan hubungan remaja jika tidak diobati dengan tepat,” ujarnya dalam acara bertajuk “Compliance and Care, a road to recovery for individual with Bipolar and Schizophrenia”.
Perbedaan gangguan bipolar dan skizofrenia pada anak dan remaja
Sering disamakan, padahal GB dan skizofrenia merupakan dua jenis kesehatan mental yang berbeda. Prof. Tjhin mengatakan, beberapa faktor risiko terjadinya GB adalah genetik, lingkungan, neurobiologis, dan psikososial.
Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan suasana hati yang intens antara keadaan depresif yang mendalam dan juga episode mania. Dibandingkan orang dewasa, gejala GB memang lebih sulit dikenali pada anak-anak dan remaja. Sering kali sulit untuk membedakan apakah gangguan mood adalah hal yang biasa akibat kenakalan anak dan remaja, stres atau trauma, atau apakah itu tanda-tanda dari GB.
Anak-anak dan remaja mungkin memiliki episode depresi mayor, manik atau hipomanik yang berbeda. Namun, polanya bisa bervariasi dari orang dewasa dengan gangguan bipolar. Suasana hati dapat berubah dengan cepat selama episode berlangsung. Beberapa anak mungkin mengalami periode tanpa gejala suasana hati di antara perubahan episode.
Salah satu tanda GB yang paling terlihat pada anak-anak dan remaja yang perlu disoroti adalah perubahan suasana hati yang parah, keluarga dan orang sekitarnya harus mampu membedakannya dari mood swing biasanya.
Baca juga: Waspada Bipolar pada Anak, Ketahui 7 Tandanya Berikut!
Sedangkan, skizofrenia terjadi karena beberapa faktor seperti genetik, perinatal atau komplikasi sejak lahir, lingkungan, dan neurodevelopmental atau kelainan struktur otak.
Gejala skizofrenia pada remaja mirip dengan gejala pada orang dewasa, tapi kondisinya mungkin lebih sulit dikenali. Itu karena beberapa gejala awal skizofrenia (sebelum akhirnya mengalami halusinasi, delusi, dan disorganisasi) akan ntampak seperti perilaku umum pada remaja, seperti menjauh dari teman dan keluarga, tidak berprestasi di sekolah, sulit tidur, merasa mudah tersinggung atau tertekan, dan kurang motivasi.
Dibandingkan orang dewasa yang menderita skizofrenia, remaja dengan kondisi tersebut lebih kecil kemungkinannya mengalami delusi dan lebih mungkin mengalami halusinasi.
Tantangan penanganan gangguan bipolar dan skizofrenia pada anak dan remaja
Dalam menangani gangguan bipolar dan skizofrenia pada anak dan remaja, sayangnya masih ditemui beberapa hambatan dan tantangan, misalnya:
- Gejala yang tumpang tindih dengan gejala gangguan mental lainnya, seperti gejala ADHD dan autisme, atau kadang dianggap sebagai perilaku anak yang wajar padahal sudah menunjukkan tanda awal.
- Hambatan komunikasi anak yang mungkin kurang mampu mengekspresikan apa yang dirasakan atau dipikirkan.
- Kurangnya studi dan manajemen yang baku khusus untuk anak dan remaja.
- Ketidakpatuhan terhadap pengobatan.
- Stigma orang tua dan masyarakat yang merasa gangguan mental masih tabu sehingga cenderung menyangkal atau menyembunyikan kondisi tersebut.
Keluarga dan lingkungan sekitar, atau disebut sebagai support system, memiliki peran penting bagi anak dan remaja dengan GB dan Skizofrenia. Prof. Tjhin membeberkan beberapa hal yang bisa dilakukan para support system dalam pendampingan pengobatan seperti:
- Keluarga dan lingkungan sekitar harus mau memperluas pengetahuan dan pemahaman, yaitu terus belajar terkait dengan GB dan Skizofrenia pada anak dan remaja.
- Terlibat langsung dalam menejemen tatalakasana.
- Menjadi pengingat agar anak dan remaja bisa berobat teratur, mengonsumsi obat sesuai aturan, dan menjalani terapi psikososial secara rutin.
“Intinya, penanganannya memang perlu pendekatan eklektik, holistik, dan multidisiplin. Diharapkan ini bisa berdampak langsung pada stabilisasi emosi dan penguatan psikologis yang bermakna, meningkatkan kepatuhan pengobatan, membantu mengurangi stigma negatif dan isolasi sosial, serta mendorong pemulihan sosial dan fungsi akademik anak dan remaja,” tutup Prof. Tjhin. (M&B/Vonda Nabilla/SW/Foto: Freepik, Dok. Eugenia Communications)
