Type Keyword(s) to Search
KID

Ini Dampak Anemia dan Gangguan Penglihatan Terhadap Fungsi Kognitif Anak

Ini Dampak Anemia dan Gangguan Penglihatan Terhadap Fungsi Kognitif Anak

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Anemia dan gangguan penglihatan pada anak menjadi tantangan dalam kesehatan anak di Indonesia. Keduanya tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tapi juga menghambat fungsi kognitif penting seperti memori kerja yang berperan besar dalam proses belajar dan berpikir.

Menurut WHO, sekitar 25% anak usia sekolah di seluruh dunia mengalami anemia. Dalam Jurnal Plos One disebutkan bahwa hampir 50% kasus anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi, yang terbukti berkorelasi negatif dengan perkembangan kognitif anak.

Melihat urgensi isu tersebut, Study & Symposium Supported by Danone yang merupakan bagian dari rangkaian INA Nutri Symposium 2025 yang diselenggarakan oleh Indonesia Nutrition Association (INA), menghadirkan pemaparan dua studi terbaru dari Indonesian Health Development Center (IHDC). Studi ini mengungkap keterkaitan antara anemia defisiensi zat besi dan gangguan penglihatan dengan gangguan fungsi memori kerja serta penurunan kemampuan akademik pada anak.

Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan hasil studi yang memperlihatkan bagaimana anemia akibat defisiensi zat besi berdampak langsung pada fungsi kognitif anak.

19,7% anak SD di Jakarta mengalami anemia

“Melalui studi yang melibatkan 335 anak usia sekolah dasar di Jakarta, ditemukan bahwa 19,7% anak mengalami anemia dan 22,1% memiliki gangguan kerja memori. Anak dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah secara signifikan menunjukkan performa memori kerja yang lebih buruk. Ini menunjukkan bahwa anemia bukan hanya masalah fisik, tetapi juga berdampak nyata pada fungsi kognitif dan kemampuan belajar anak,” ujar dr. Ray.

Lebih lanjut, Dr. Ray menjelaskan bahwa studi menunjukkan anak-anak dengan gangguan memori kerja memiliki kadar hemoglobin yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan anak dengan fungsi memori kerja normal.

Hal ini memperkuat kaitan antara anemia, khususnya akibat defisiensi zat besi, dengan terganggunya kemampuan belajar dan berpikir anak. Selain itu, anak yang mengalami stunting (tinggi badan di bawah standar) tercatat memiliki risiko tiga kali lebih tinggi mengalami gangguan memori kerja, yang mengindikasikan dampak jangka panjang dari malnutrisi terhadap perkembangan otak.

Rendahnya asupan protein dan lemak pada anak usia sekolah dapat memperparah dampak anemia terhadap fungsi kognitif. Karena itu, dibutuhkan program nutrisi berbasis sekolah yang fokus pada pemenuhan zat besi dan protein untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar dan fungsi memori anak secara menyeluruh.

Gangguan penglihatan umum terjadi pada anak usia sekolah

Sementara itu, Director Kemitraan dari Indonesian Health Development Center (IHDC), Dr. Kianti R. Darusman, M.Sc., PhD, menyampaikan bahwa gangguan penglihatan seperti refractive error (rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme) yang tidak ditangani dengan tepat dapat mengganggu proses belajar anak. “Sebab sebagian besar aktivitas belajar di sekolah bersifat visual, anak dengan penglihatan terganggu perlu berusaha lebih keras untuk memahami informasi. Hal ini dapat menurunkan efisiensi memori kerja dan berdampak pada kemampuan belajar secara keseluruhan,” jelas Dr. Kianti.

Gangguan penglihatan juga ditemukan cukup umum terjadi pada anak usia sekolah, yang merupakan fase penting dalam perkembangan kognitif dan akademik. Bahkan, anak-anak dengan gangguan penglihatan ini tercatat memiliki nilai akademik lebih rendah yang signifikan dibandingkan dengan yang memiliki penglihatan normal. Temuan ini menekankan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin dan penanganan yang tepat untuk mendukung kemampuan belajar anak secara optimal.

Berdasarkan studi ini, terlihat bahwa gangguan kesehatan seperti anemia dan gangguan penglihatan berdampak cukup signifikan terhadap fungsi kognitif anak, khususnya memori kerja yang memegang peranan penting dalam proses belajar. Ini memperkuat pentingnya intervensi nutrisi yang tepat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan zat besi, protein, dan lemak untuk mendukung perkembangan otak anak.

Zat besi berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sel, termasuk sel-sel otak yang memengaruhi kognitif dan kemampuan belajar anak. Kekurangan zat besi tidak hanya berdampak fisik, tapi juga kognitif, dan dapat memperbesar risiko gangguan belajar jika tidak ditangani sejak dini. (M&B/SW/Foto: Dok. Danone)