Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Setiap anak lahir dengan keunikan masing-masing, pun dengan cara berpikir, belajar, dan berinteraksi. Hal ini sangatlah wajar dan bukan suatu “kecacatan” atau “penyakit”. Anak-anak yang memproses informasi, belajar, atau berinteraksi dengan cara yang berbeda dari teman-teman sebayanya ini sering disebut dengan anak Neurodivergent.
Istilah neurodivergent menjadi bagian dari neurodiversity atau neurodiversitas, yaitu sebuah konsep yang mengakui keberagaman cara kerja otak manusia sebagai variasi alami. Sama seperti sidik jari yang tidak ada duanya, cara kerja otak setiap orang pun berbeda-beda. Konsep ini mencakup berbagai kondisi, seperti autisme (ASD), ADHD, disleksia, dispraksia, dan lain sebagainya.
Memahami, mengasuh dan membesarkan anak neurodivergent bukanlah perkara mudah. Karenanya, mari pahami bersama lebih jauh tentang anak neurodivergent dan cara mendukung tumbuh kembangnya agar tetap optimal berikut.
Penyebab anak neurodivergent
Bukan karena pola asuh yang salah, neurodivergent ini disebabkan karena kombinasi berbagai faktor alami.
Faktor genetik memainkan peran yang sangat besar. Sering kali, sifat neurodivergent diturunkan dari anggota keluarga, meskipun wujudnya bisa berbeda-beda pada setiap generasi.
Selain itu, faktor perkembangan otak selama masa kehamilan hingga pengaruh lingkungan awal juga turut membentuk bagaimana jaringan saraf anak terhubung.
Ciri-ciri anak neurodivergent
Mengenali tanda-tanda anak neurodivergent sejak dini dapat membantu Moms dan Dads memberikan pendampingan yang lebih tepat. Berikut beberapa ciri umum yang biasanya terlihat pada anak neurodivergent:
1. Gaya belajar dan komunikasi yang unik
Anak neurodivergent mungkin lebih mudah belajar melalui visual atau praktik langsung dibandingkan mendengarkan instruksi. Mereka juga mungkin memiliki cara berkomunikasi yang berbeda, seperti menghindari kontak mata, keterlambatan bicara, atau sangat ekspresif pada topik tertentu.
2. Sensitivitas sensori
Banyak anak neurodivergent memiliki kepekaan yang lebih tinggi atau lebih rendah terhadap rangsangan sensorik. Mereka mungkin merasa terganggu dengan suara bising, cahaya terang, atau tekstur pakaian tertentu, namun di sisi lain sangat menyukai sentuhan atau gerakan tertentu (seperti berayun).
3. Regulasi emosi dan fokus
Anak neurodivergent mungkin terlihat sangat aktif dan kesulitan duduk diam (seperti pada ADHD), atau sebaliknya, mereka bisa sangat fokus pada satu aktivitas berjam-jam lamanya hingga melupakan hal lain di sekitarnya.
Cara mendukung tumbuh kembang anak neurodivergent
Menjadi orang tua dari anak yang istimewa adalah sebuah anugerah yang membutuhkan kesabaran dan kasih sayang ekstra. Berikut beberapa langkah praktis untuk mendukung potensi Si Kecil:
1. Fokus pada kekuatan anak
Setiap anak memiliki kelebihan. Alih-alih hanya berfokus pada kelemahan atau hal yang belum bisa mereka lakukan, temukanlah bakat dan minat mereka. Apabila anak sangat menyukai menggambar atau membangun balok, fasilitasi minat tersebut. Kepercayaan diri mereka akan tumbuh pesat saat mereka merasa dihargai atas apa yang mereka kuasai.
2. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman
Anak-anak neurodivergent sering kali membutuhkan rutinitas yang terprediksi untuk merasa aman. Buatlah jadwal harian yang konsisten. Jika anak memiliki sensitivitas sensori, sediakan ruang yang tenang dan minim gangguan agar mereka bisa beristirahat saat merasa kewalahan (overwhelmed).
3. Jalin kerja sama dengan tenaga profesional
Berkonsultasi dengan dokter anak, psikolog anak, atau terapis okupasi dan wicara dapat memberikan panduan yang sangat berharga. Para ahli ini dapat membantu merancang terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan unik Si Kecil.
Atelier of Minds, rumah ramah bagi anak neurodivergent
Seperti diketahui, cara kerja otak anak neurodivergent berbeda-beda, tak heran mereka pun memiliki kebutuhan yang beragam dalam belajar. Meski tak menutup kemungkinan untuk tetap bisa belajar di sekolah umum, namun berada pada sebuah tempat yang mendukung pendidikan inklusif, yang memenuhi kebutuhan belajar mereka tentu akan lebih memudahkan dan membantu tumbuh kembang mereka.
Memahami hal tersebut, Atelier of Minds (AoM) yang merupakan pelopor pusat student care dan pengembangan anak, resmi hadir di Jakarta Selatan. Berbeda dengan pusat pendidikan konvensional, Atelier of Minds mengintegrasikan pendekatan berbasis terapi ke dalam pengalaman belajar sehari-hari, sehingga menjembatani kebutuhan antara pendidikan dan dukungan perkembangan anak.
“Anak akan berkembang ketika lingkungan disesuaikan dengan cara kerja otaknya, bukan sebaliknya,” ujar Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist Agape Psychology, Singapura, yang juga menjadi mitra penasihat Atelier of Minds.
Atelier of Minds menghadirkan tiga program utama yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak:
- Atelier Minis (usia 2–5 tahun) – program berbasis bermain untuk anak usia dini
- Student Care (usia 6–12 tahun) – pendampingan setelah sekolah yang mengintegrasikan akademik, regulasi emosi, dan keterampilan sosial
- Enrichment Program – meliputi coding, art therapy, seni dan kerajinan, angklung, gitar, gym & movement
“Atelier of Minds dibangun dari keyakinan sederhana, di mana setiap anak berhak mendapatkan lingkungan yang tepat untuk berkembang. Kami tidak hanya membangun sebuah tempat, tetapi juga mendorong gerakan menuju pendidikan yang lebih inklusif dan berempati di Indonesia,” ujar Donny Eryastha, Co-Founder Atelier of Minds. (MB/Vonda Nabilla/RF/Foto: Fwstudio/Dok.Freepik & Atelier of Minds)
