Type Keyword(s) to Search
KID

Sering Lupa dan Susah Fokus? Waspadai Anemia Pada Anak

Sering Lupa dan Susah Fokus? Waspadai Anemia Pada Anak

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Buat banyak Moms, momen anak mulai sekolah sering dibarengi dengan berbagai tantangan baru, mulai dari anak yang susah fokus, mudah lupa, sampai butuh waktu lebih lama untuk memahami pelajaran. Sekilas terlihat seperti masalah belajar atau adaptasi. Tapi faktanya, ini bisa jadi tanda Si Kecil mengalami  anemia lho, Moms!

Dampak anemia terhadap daya tangkap anak

Anemia sering dikaitkan hanya dengan kondisi anak terlihat pucat atau mudah lelah. Padahal, dampaknya bisa jauh lebih kompleks, terutama pada fungsi otak. Studi terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC) yang melibatkan 335 anak sekolah dasar di Jakarta menunjukan fakta yang cukup mengkhawatirkan. 

Sekitar 19,7% anak teridentifikasi mengalami anemia, dan 22,1% anak mengalami kesulitan dalam working memory. Hal ini membuktikan bahwa kadar hemoglobin yang lebih rendah berkaitan langsung dengan performa working memory anak.  Kondisi ini menjelaskan anak yang mengalami hal tersebut lebih sulit mengikuti pelajaran, mudah terdistraksi, atau cepat lupa bahkan untuk hal-hal sederhana. 

Hal ini juga disampaikan oleh Executive Director IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang menjelaskan “Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi,” jelasnya. 

Temuan ini mempertegas bahwa anemia bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga bisa berdampak langsung pada performa anak di sekolah. Bahkan, anak dengan kondisi stunting disebut memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory.

Kekurangan zat besi jadi pemicu utama anemia pada anak

Zat besi memiliki peran penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu komponen dalam darah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak. Ketika zat besi tidak terpenuhi, suplai oksigen ke otak ikut terganggu yang berdampak pada working memory  Si Kecil. 

Studi IHDC menemukan bahwa anak dengan anemia cenderung memiliki asupan protein yang lebih rendah, yaitu hanya sekitar 46% dari  Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan. Hal ini menunjukan bahwa kualitas asupan gizi anak masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan bersama.

President of Indonesian Nutrition Association, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), menjelaskan bahwa pemenuhan gizi yang optimal memegang peranan penting dalam mendukung tumbuh kembang dan fungsi kognitif anak usia sekolah. “Dalam mendukung tumbuh kembang dan kemampuan belajar anak, penting untuk memastikan asupan gizi yang optimal dan seimbang setiap hari. Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat anak,” ujarnya.

Peran keluarga dan sekolah juga penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat anak sejak dini. Namun, masih banyak orang tua yang belum menyadari bahwa anak sulit fokus atau mudah lupa bisa berkaitan dengan asupan gizi, termasuk risiko anemia akibat kekurangan zat besi. 

Putri Titian, aktris Tanah Air sekaligus ibu dari dua orang anak, juga mengakui hal ini. “Sebagai ibu, saya jadi lebih sadar bahwa fokus dan daya ingat anak bisa dipengaruhi asupan gizinya. Ini jadi pengingat untuk lebih memperhatikan kebutuhan gizi mereka agar tumbuh optimal.”

Untuk memenuhi kebutuhan zat besi, Moms bisa memberikan anak makanan kaya zat besi, seperti daging merah, hati ayam, ikan, telur, serta sumber nabati seperti bayam, brokoli, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sereal atau oatmeal yang sudah difortifikasi zat besi. Agar penyerapan zat besi lebih optimal, kombinasikan juga dengan makanan tinggi vitamin C seperti jeruk, tomat, atau stroberi. (MB/RA/RF/Foto: Freepik)