Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Menjadi seorang ibu, bukan sekadar mengurus dan memberi makan anak. Si Kecil juga perlu diajak berbicara atau mengobrol sebagai bagian dari bonding Moms dengannya. Namun bagaimana cara komunikasi ibu dan anak yang tepat?
Menjadi seorang ibu adalah perjalanan yang penuh dengan kejutan, kebahagiaan, dan tentu saja tantangan. Salah satu hal yang sering kali menjadi pemikiran para Moms adalah bagaimana cara agar Anda bisa selalu dekat dengan anak-anak. Terkadang, Moms merasa sudah memberikan yang terbaik, namun pesan yang Anda sampaikan belum tentu diterima dengan baik oleh Si Kecil.
Kunci dari hubungan yang harmonis dalam keluarga sering kali berakar pada satu hal sederhana, yaitu cara Anda berbicara dan mendengarkan. Saat Anda mampu saling memahami, ikatan batin akan tumbuh semakin kuat. Hubungan yang dilandasi saling pengertian ini akan menjadi bekal yang luar biasa bagi pertumbuhan emosional anak.
Mengapa komunikasi ibu dan anak sangat penting?
Komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan hati Moms dengan pikiran Si Kecil. Tanpa adanya jembatan ini, sangat sulit bagi seorang anak untuk merasa aman dan dimengerti. Anak-anak yang merasa suaranya didengar cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri.
Lebih dari sekadar bertukar informasi, berbicara dan mendengarkan adalah cara Anda menyalurkan kasih sayang. Saat Moms menyempatkan diri untuk duduk bersama dan mendengarkan cerita Si Kecil tentang kejadian di sekolah, Anda sedang mengirimkan pesan bahwa ia sangat berharga. Perasaan dihargai inilah yang menjadi fondasi utama bagi kesehatan mental dan kebahagiaan anak di masa depan.
Baca juga: 6 Tips Berkomunikasi Efektif dengan Anak Praremaja
Manfaat komunikasi yang baik bagi ibu dan anak
Membangun kebiasaan mengobrol yang sehat membawa banyak kebaikan, baik untuk perkembangan anak maupun ketenangan batin Moms. Berikut adalah beberapa manfaat utama yang bisa Anda rasakan:
- Mengurangi konflik sehari-hari: Kesalahpahaman sering kali memicu pertengkaran. Dengan penyampaian yang jelas dan lembut, amarah dan frustrasi bisa diredam lebih cepat.
- Meningkatkan rasa percaya anak: Anak yang terbiasa diajak berdiskusi akan merasa nyaman untuk terbuka. Anak tidak akan ragu menceritakan masalah besar ketika ia beranjak remaja nanti.
- Meringankan beban pikiran ibu: Mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan anak membuat Moms tidak perlu terus menebak-nebak. Hal ini sangat mengurangi tingkat stres dalam mengasuh anak.
- Membangun keintiman emosional: Kedekatan yang tulus membuat anak merasa rumah adalah tempat paling aman untuk kembali.
Pengaruh komunikasi terhadap karakter anak
Kata-kata yang Moms ucapkan setiap hari perlahan-lahan akan menjadi suara hati Si Kecil. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan dengan komunikasi yang positif akan menyerap energi tersebut ke dalam kepribadiannya.
Sebagai contoh, ketika Moms terbiasa menggunakan kalimat yang penuh empati saat anak melakukan kesalahan, ia akan belajar tentang rasa belas kasih dan cara memaafkan diri sendiri. Si Kecil tumbuh menjadi individu yang tidak mudah menghakimi orang lain. Sebaliknya, anak yang sering mendapatkan kritik tajam tanpa penjelasan cenderung menjadi pribadi yang tertutup dan mudah cemas.
Gaya berbicara Moms juga mengajarkan anak tentang cara memecahkan masalah. Anak akan meniru bagaimana ibunya bernegosiasi, mengelola emosi marah, dan mengutarakan pendapat dengan sopan. Ini adalah bekal kecerdasan sosial yang sangat berharga bagi Si Kecil saat bersosialisasi di luar rumah.
Baca juga: Wajib Tahu, Ini Macam-macam Gaya Komunikasi dalam Pengasuhan Anak
Bagaimana cara membangun komunikasi yang baik antara ibu dan anak?
Menciptakan ruang obrolan yang hangat sebenarnya bisa dimulai dari langkah-langkah kecil. Moms bisa mempraktikkan beberapa cara berikut ini:
1. Luangkan waktu khusus tanpa gangguan
Sisihkan waktu setidaknya 15 hingga 30 menit setiap hari hanya untuk berdua. Singkirkan ponsel, matikan televisi, dan tatap mata anak saat ia berbicara. Kehadiran Moms secara penuh adalah hadiah terbaik yang bisa anak terima.
2. Jadilah pendengar yang aktif
Terkadang, anak hanya butuh didengar, bukan diceramahi. Dengarkan cerita Si Kecil sampai selesai tanpa memotong. Berikan respon ringan seperti anggukan atau kalimat pendek seperti, "Lalu, apa yang adik rasakan saat itu?"
3. Validasi perasaan anak
Hindari meremehkan emosi anak. Jika Si Kecil menangis karena mainannya rusak, jangan langsung berkata, "Ah, itu kan cuma mainan." Cobalah katakan, "Ibu tahu kamu sedih sekali karena mainan kesayanganmu rusak." Pengakuan atas perasaan anak membuat dia merasa diterima apa adanya.
4. Gunakan bahasa yang sesuai dengan usia
Sesuaikan kosa kata dan nada bicara dengan tingkat pemahaman anak. Untuk balita, gunakan kalimat pendek dan jelas. Untuk anak yang lebih besar atau remaja, Moms bisa mulai mengajaknya bertukar argumen secara sehat layaknya teman diskusi.
Panduan berkomunikasi: do's and don'ts
Agar proses menjalin kedekatan ini berjalan lancar, ada beberapa panduan praktis tentang apa yang sebaiknya dilakukan (do's) dan apa yang sebaiknya dihindari (don'ts).
Yang boleh dilakukan:
- Memberikan pujian spesifik atas usaha anak, bukan hanya pada hasil akhirnya.
- Menurunkan posisi tubuh sejajar dengan mata anak saat berbicara agar ia merasa setara dan tidak terintimidasi.
- Menggunakan kata "Tolong", "Maaf", dan "Terima kasih" sebagai contoh nyata sopan santun.
- Menyediakan pilihan saat memberikan instruksi agar anak merasa memiliki kendali atas dirinya sendiri.
Yang tidak boleh dilakukan:
- Membentak atau menggunakan nada suara tinggi saat sedang emosi. Tarik napas sejenak sebelum merespon.
- Membanding-bandingkan anak dengan kakak, adik, atau anak orang lain. Hal ini sangat melukai harga diri anak.
- Mengabaikan pertanyaan anak atau menjawabnya dengan asal-asalan karena merasa sibuk.
- Mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu yang sudah pernah dibahas dan diselesaikan.
Moms, membangun hubungan yang kuat dengan anak bukanlah tujuan akhir yang bisa dicapai dalam semalam. Ini adalah proses belajar yang berlangsung seumur hidup, salah satunya melalui komunikasi ibu dan anak. (MB/WR/Foto: Tirachardz/Freepik)
