Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms pastinya sudah tahu bahwa ASI atau air susu ibu merupakan asupan terbaik bagi bayi selama enam bulan pertama kehidupannya. Namun tak sedikit ibu yang bertanya-tanya apakah Si Kecil boleh mendapatkan sumber cairan lain, seperti air putih? Lantas kapan bayi boleh minum air putih?
Anda mungkin pernah mendengar nasihat dari orang tua zaman dahulu yang menyarankan pemberian air putih sejak bayi baru lahir, terutama setelah ia minum susu atau saat ia cegukan. Namun perlu diketahui, tubuh bayi memiliki kebutuhan dan sistem pencernaan yang sangat berbeda dengan anak yang lebih besar atau orang dewasa. Memahami kapan, berapa banyak, dan bagaimana cara memberikan air putih yang tepat akan sangat membantu tumbuh kembangnya.
Kapan sebaiknya anak mulai minum air putih?
Organisasi kesehatan anak di seluruh dunia (WHO) sepakat bahwa bayi di bawah usia enam bulan tidak membutuhkan air putih. Selama enam bulan pertama kehidupannya, seluruh kebutuhan cairan dan nutrisi bayi sudah terpenuhi sepenuhnya dari ASI atau susu formula. ASI sendiri terdiri dari sekitar 80 persen air, sehingga sangat efektif untuk menjaga bayi tetap terhidrasi dengan baik, bahkan di hari yang sangat panas sekalipun.
Waktu yang paling tepat untuk mulai mengenalkan air putih adalah saat bayi berusia sekitar enam bulan. Usia ini biasanya bertepatan dengan momen bayi mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI). Pada fase ini, sistem pencernaan dan ginjal bayi sudah lebih matang untuk memproses air putih. Pemberian air putih di usia ini juga bertujuan untuk membantunya menelan makanan padat dan mencegah sembelit, bukan sebagai pengganti ASI atau susu formula.
Baca juga: Selain Air Putih, Ini Minuman Sehat buat Balita Anda
Jumlah air putih yang dibutuhkan bayi sesuai usia
Memberikan air putih pada bayi tidak boleh dilakukan sembarangan atau dalam jumlah yang terlalu banyak. Ginjal Si Kecil masih dalam tahap perkembangan, sehingga takarannya harus disesuaikan dengan usianya.
1. Usia 6 hingga 12 Bulan
Saat Moms mulai mengenalkan MPASI, air putih hanya bertindak sebagai pelengkap. Anda cukup memberikan sekitar 60 hingga 120 mililiter air putih per hari. Tujuannya utamanya adalah untuk mengenalkan rasa air tawar dan melatih keterampilan bayi minum menggunakan cangkir (sippy cup). Kebutuhan cairan dan kalori utamanya tetap harus berasal dari ASI atau susu formula.
2. Usia 1 tahun ke atas
Memasuki usia satu tahun, pola makan anak biasanya sudah lebih menyerupai orang dewasa. Ia sudah makan makanan padat secara teratur dan mulai mengurangi frekuensi minum ASI. Pada usia ini, kebutuhan air putihnya akan meningkat. Anak usia 1 hingga 3 tahun membutuhkan sekitar 2 hingga 4 cangkir (sekitar 400–900 mililiter) air putih per hari, tergantung pada tingkat keaktifannya dan kondisi cuaca di sekitarnya.
Mengapa air putih berbahaya jika diberikan terlalu dini?
Meski air putih sangat menyehatkan bagi orang dewasa, memberikannya pada bayi berusia di bawah enam bulan bisa membawa risiko yang serius bagi kesehatannya. Berikut adalah beberapa alasan medis mengapa air putih sebaiknya ditunda hingga usia enam bulan:
- Risiko kekurangan gizi: Perut bayi berukuran sangat kecil. Jika perutnya dipenuhi oleh air putih, ia akan merasa kenyang dan menolak minum ASI atau susu formula. Akibatnya, bayi bisa kehilangan asupan kalori dan nutrisi penting yang sangat ia butuhkan untuk bertumbuh optimal.
- Keracunan air (water intoxication): Ginjal bayi di bawah enam bulan belum mampu menyaring cairan dalam jumlah besar. Jika bayi minum terlalu banyak air, kadar natrium dalam darahnya bisa turun drastis. Kondisi ini bisa menyebabkan kejang, koma, bahkan berakibat fatal.
- Gangguan penyerapan nutrisi: ASI dan susu formula dirancang khusus agar mudah diserap oleh usus bayi. Memperkenalkan air putih terlalu dini dapat mengganggu keseimbangan alami pencernaan dan menghalangi penyerapan nutrisi.
Baca juga: Ini Efeknya Memberikan Bayi Minum Air Putih, Moms
Cara memberikan air putih pada bayi dengan benar
Saat Si Kecil sudah mencapai usia enam bulan, proses mengenalkan air putih bisa menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Moms bisa mengikuti langkah-langkah lembut berikut ini:
- Gunakan cangkir khusus: Hindari memberikan air putih melalui botol dot. Gunakan momen ini untuk melatih bayi menggunakan cangkir (sippy cup) atau gelas terbuka berukuran kecil. Ini akan melatih motorik mulut dan membantunya beralih dari kebiasaan mengisap.
- Berikan setelah makan: Tawarkan beberapa teguk air putih setelah bayi selesai makan MPASI. Ini akan membantunya membilas sisa makanan di mulut dan melancarkan pencernaan.
- Jangan memaksa: Jika bayi menolak atau menyemburkan air putih, jangan memaksanya. Rasa tawar mungkin terasa aneh bagi bayi yang selama ini hanya mengenal rasa ASI atau susu formula yang manis. Coba lagi di kesempatan berikutnya dengan penuh kesabaran.
Tanda-tanda bayi butuh minum air putih
Meskipun takaran umumnya sudah ada, Moms tetap perlu peka terhadap bahasa tubuh Si Kecil. Ada beberapa kondisi yang membuat bayi usia enam bulan ke atas membutuhkan sedikit tambahan air putih, antara lain:
- Sembelit: Jika bayi kesulitan buang air besar, fesesnya keras, atau ia tampak kesakitan saat mengejan setelah mulai MPASI, tambahan sedikit air putih dapat membantu melunakkan fesesnya.
- Cuaca yang sangat panas: Saat cuaca terik atau bayi banyak beraktivitas fisik hingga berkeringat, tawarkan air putih sedikit lebih sering untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.
- Warna urine gelap: Perhatikan popok bayi. Urine yang sehat seharusnya berwarna kuning pucat atau bening. Jika urine berwarna kuning pekat dan bau, itu bisa menjadi tanda bahwa Si Kecil membutuhkan lebih banyak cairan.
Mengetahui kapan bayi boleh minum air putih adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan pencernaan dan ginjal Si Kecil. Ingatlah bahwa ASI dan susu formula sudah sangat cukup untuk memenuhi dahaganya di bulan-bulan pertama kehidupannya.
Ketika waktunya tiba, kenalkan air putih perlahan-lahan sebagai bagian dari prosesnya belajar makan. Jika Moms masih merasa ragu atau melihat tanda-tanda dehidrasi yang mengkhawatirkan pada Si Kecil, jangan pernah ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak. (MB/WR/RF/Foto: Drazen Digic/Freepik)
