Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Masalah infertilitas masih banyak dialami pasangan di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, 10-15% pasangan di Indonesia mengalami masalah infertilitas. Hal ini diperkuat oleh data World Population Prospects. Pada 1990, Total Fertility Rate (TFR) Indonesia masih di level 3,10. Kemudian di tahun-tahun berikutnya TFR bergerak turun hingga mencapai 2,15 pada tahun lalu. Secara kumulatif, angka kelahiran Indonesia sudah berkurang 30,64% selama periode 1990-2022.
Memperingati World IVF Day (Hari Bayi Tabung Sedunia) pada 25 Juli 2025, Merck menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung sepenuhnya upaya perluasan akses IVF terbaik bagi masyarakat Indonesia dengan memberikan solusi keterjangkauan, dan pendampingan pasien.
Merck percaya bahwa perawatan kesuburan (fertilitas) di Indonesia merupakan solusi efektif dalam menjaga tingkat rasio populasi yang sehat agar bisa mendorong perekonomian menjadi lebih baik.
Evie Yulin, President Director of PT Merck Tbk, menyatakan, “Kami tetap teguh terhadap komitmen untuk mendukung para ahli IVF guna menghadirkan akses perawatan dengan berfokus pada kepuasan dan hasil yang lebih baik bagi masyarakat. Tahun ini jadi momen berarti bagi kami, karena lebih dari 6 juta bayi telah lahir di seluruh dunia lewat teknologi ART yang didukung Merck.”
Fertilitas adalah hak semua orang
Merck meyakini bahwa fertilitas seharusnya menjadi hak semua orang dan membantu menjembatani tantangan biaya, agar lebih banyak pasangan yang dapat mewujudkan impian memiliki anak tanpa terbebani secara finansial. Upaya ini juga menjadi bagian penting dalam memperluas akses program fertilitas yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM – Ketua Umum PP POGI, mengatakan, “Teknologi dan keahlian dalam program bayi tabung di Indonesia telah mencapai standar yang setara dengan negara-negara terkemuka lainnya. Para dokter dan klinik di Indonesia sudah membuktikan kredibilitas tinggi mereka dalam menyediakan layanan ART yang berkualitas dan sesuai standar global. Kini, tantangan yang harus kita hadapi adalah meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan ini, agar makin banyak pasangan yang merasakan manfaat dan kesempatan untuk mewujudkan impian memiliki buah hati.”
Untuk mendukung hal ini, Merck menyediakan serangkaian alat bantu berbasis nilai, termasuk alat komunikasi yang dirancang untuk membantu tenaga medis menjelaskan prosedur IVF serta harapan kepada pasien dengan cara yang lebih jelas dan mudah dipahami. Selain itu, Merck menghadirkan alat survei komprehensif yang digunakan untuk memetakan dan mengevaluasi setiap tahapan perjalanan pasien di tingkat klinik, dengan tujuan mengidentifikasi tantangan emosional dan logistik yang dihadapi pasien. Temuan dari alat ini dapat menjadi dasar bagi perbaikan layanan yang bermakna dan lebih selaras dengan kebutuhan pasien.
Prof. Dr. dr. Hendy Hendarto, SpOG, Subsp. FER - Ketua PERFITRI (Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia), mengatakan, “Sudut pandang layanan fertilitas kini harus bergeser ke arah patient centric atau sesuai kebutuhan dan kondisi pasangan secara individu. Bukan hanya soal hasil klinis, tapi bagaimana dokter membangun komunikasi yang empatik dan transparan dengan pasien. Hal ini karena keberhasilan dalam IVF tidak semata ditentukan oleh teknologi, tapi oleh rasa percaya, kenyamanan, dan dukungan emosional selama prosesnya.” (M&B/SW/Foto: Stefamerpik/Freepik)