Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Menyapih merupakan fase alami yang akan dijalani setiap ibu menyusui. Setelah menyusui selama 2 tahun, mengakhiri perjalanan menyusui dengan menyapih merupakan masa yang mengharukan sekaligus menantang. Ketika mulai berhenti menyusui, busui perlu mempersiapkan diri dengan sejumlah dampak ASI yang tidak dikeluarkan saat menyapih.
Dengan mengetahui dampak-dampaknya sedini mungkin, Moms bisa mempersiapkan solusi dan tindakan pencegahannya. Yuk, simak artikel ini sampai habis untuk tahu apa saja dampak dari proses menyapih tersebut.
Dampak ASI yang tidak dikeluarkan saat menyapih
1. Engorgement atau pembengkakan payudara
Kondisi ini terjadi saat suplai ASI masih deras tapi tidak dikeluarkan dengan maksimal. Pembengkakan payudara akan membuat payudara menjadi keras, nyeri, dan sakit saat disentuh. Engorgement yang berkepanjangan bisa menyebabkan penurunan suplai darah ke jaringan payudara dan berpotensi memicu komplikasi lebih lanjut.
2. ASI tersumbat
ASI yang tersumbat juga bisa menyebabkan payudara bengkak dan terasa nyeri. ASI tersumbat menimbulkan benjolan yang khas pada beberapa titik di payudara. Jika tidak segera diatasi, masalah ini bisa berkembang menjadi mastitis. Sayangnya, ASI tersumbat sering kali tidak bisa diatasi hanya dengan memompa ASI. Moms bisa melakukan kompres hangat untuk membantu mengatasi ASI tersumbat.
Baca juga: Ciri-Ciri ASI Tersumbat dan Cara Tepat Mengatasinya
3. Mastitis
Tidak sekadar payudara bengkak, mastitis merupakan kondisi yang terjadi saat bakteri masuk melalui saluran susu yang tersumbat, menyebabkan infeksi pada jaringan payudara. Gejala mastitis meliputi demam tinggi, nyeri payudara yang intens, kemerahan, dan pembengkakan.
Baca juga: Mastitis pada Ibu Menyusui, Ini Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
4. Fluktuasi hormonal yang intens
Tidak hanya memengaruhi jumlah ASI dan payudara, berhenti menyusui secara mendadak juga menyebabkan perubahan hormonal yang drastis. Penurunan kadar prolaktin dan oksitosin dapat memicu gejala seperti mood swings, kelelahan, dan bahkan gejala yang menyerupai depresi postpartum.
Tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan hormonal ini. Proses adaptasi yang terlalu cepat bisa memperberat dampak emosional yang dialami ibu menyusui.
Solusi mengatasi masalah ASI saat menyapih
1. Memerah ASI dengan tangan
Moms bisa memosisikan tangan dengan memijat payudara secara lembut dan memerah ASI secukupnya. Pastikan tidak memerah dengan berlebihan agar produksi ASI dapat berkurang secara bertahap.
Baca juga: ASI Perah Bisa Bertahan Berapa Jam? Ini Jawabannya, Moms!
2. Memompa ASI dengan bijak
Memompa ASI dapat mengeluarkan ASI dengan lebih mudah agar ASI tidak tersumbat. Penggunaan pompa ASI dalam durasi singkat dan frekuensi yang dikurangi secara bertahap bisa membantu mengurangi produksi ASI sambil mencegah engorgement.
3. Kompres payudara
Kompres dingin bisa membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri payudara, sementara kompres hangat sebelum pengeluaran ASI dapat memudahkan aliran. Anda juga bisa menggunakan bra yang tepat untuk memberikan rasa nyaman pada payudara di masa menyapih.
Itulah beberapa dampak ASI yang tidak dikeluarkan saat menyapih dan cara mengatasinya. Moms juga bisa mencegah masalah-masalah tersebut dengan mengurangi durasi dan frekuensi menyusui secara bertahap beberapa bulan sebelum masa menyapih tiba. Bukan hanya untuk mencegah masalah pada payudara, tapi juga mempersiapkan mental Si Kecil untuk berhenti menyusu. (M&B/AY/RF/Foto: Freepik)