FAMILY & LIFESTYLE

Wanita Selingkuh, Apakah Benar Mencintai Selingkuhannya?


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Menemukan fakta bahwa pasangan telah berselingkuh adalah salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam kehidupan berumah tangga. Bukan hanya pria yang berselingkuh, wanita juga berselingkuh. Di tengah bermacam perasaan: marah, kecewa, sedih, saat mengetahui diselingkuhi, biasanya buat para pria muncul satu pertanyaan: Jika wanita selingkuh, apakah ia mencintai selingkuhannya itu?

Pertanyaan ini wajar muncul karena wanita sering kali dianggap melibatkan perasaan yang mendalam dalam setiap tindakannya, berbeda dengan stereotip pria yang mungkin berselingkuh hanya karena dorongan fisik semata. Namun, dinamika psikologis di balik perselingkuhan wanita jauh lebih kompleks daripada sekadar “jatuh cinta” pada orang baru.

Ciri-ciri wanita yang rentan selingkuh

Meskipun tidak ada rumus pasti untuk memprediksi perselingkuhan, psikolog pernikahan sering menemukan pola tertentu pada individu yang rentan mencari kenyamanan di luar pernikahan. Penting untuk diingat bahwa ciri-ciri ini bukanlah pembenaran atas tindakan selingkuh, melainkan sinyal bahwa ada kebutuhan emosional yang mungkin tidak terpenuhi.

1. Memiliki kebutuhan validasi yang tinggi

Wanita yang merasa tidak aman (insecure) dengan dirinya sendiri sering kali mencari validasi eksternal. Jika ia tidak mendapatkan apresiasi atau pujian yang cukup dari pasangannya di rumah, ia mungkin akan mudah terbuai oleh orang lain yang memberikan perhatian tersebut. Pria lain yang memuji kecantikannya atau kecerdasannya bisa menjadi “obat” instan bagi rasa percaya dirinya yang rendah.

2. Merasa kesepian dalam pernikahan

Ini adalah salah satu pemicu terbesar. Seorang wanita bisa saja memiliki suami dan anak-anak, tetapi tetap merasa kesepian secara emosional. Wanita yang merasa suaminya terlalu sibuk, dingin, atau tidak lagi mau mendengarkan cerita kesehariannya, menjadi sangat rentan terhadap kehadiran orang ketiga yang bersedia menjadi pendengar yang baik.

3. Cenderung menghindari konflik

Wanita yang sulit mengomunikasikan ketidakpuasannya secara langsung cenderung memendam masalah. Daripada bertengkar untuk menyelesaikan masalah rumah tangga, ia mungkin mencari “pelarian” yang lebih menyenangkan dan bebas konflik. Selingkuhan sering kali dilihat sebagai solusi singkatnya.

Baca juga: Arti Mimpi Pasangan Selingkuh, Benarkah Ada Perselingkuhan?

Apa yang sebenarnya dipikirkan wanita saat selingkuh?

Kembali ke pertanyaan utama: Apakah wanita mencintai selingkuhannya? Jawabannya sering kali lebih rumit dari sekadar “ya” atau “tidak”.

Dalam banyak kasus, apa yang dirasakan wanita tersebut bukanlah cinta sejati (true love), melainkan limerence. Limerence adalah kondisi mental yang tidak sengaja yang ditandai dengan perasaan obsesif, fantasi, dan kerinduan emosional yang kuat terhadap orang lain.

Saat berselingkuh, wanita sering kali tidak berpikir jernih. Berikut ini beberapa hal yang mendominasi pikirannya:

1. Pencarian jati diri yang hilang

Sering kali, wanita tidak sedang mencari suami baru. Ia sedang mencari bagian dari dirinya yang hilang. Bersama selingkuhan, ia mungkin merasa “muda lagi”, “seksi lagi”, atau “hidup lagi”. Ia mencintai perasaan yang muncul saat bersama orang tersebut, bukan mencintai orangnya secara utuh.

2. Fantasi vs realita

Hubungan perselingkuhan hidup dalam gelembung fantasi. Wanita tidak melihat keburukan selingkuhannya karena mereka tidak hidup bersama, tidak mengurus rumah bersama, dan tidak menghadapi masalah finansial bersama. Wanita mungkin berpikir ini adalah cinta, padahal itu hanyalah euforia sesaat karena hal yang baru.

3. Justifikasi emosional

Wanita cenderung menjustifikasi perselingkuhan dengan alasan emosional. “Saya berhak bahagia,” atau “Suami saya tidak mengerti saya,” adalah narasi yang sering diputar di kepala untuk meredam rasa bersalah.

Jadi, apakah itu cinta? Sering kali bukan. Itu adalah keterikatan emosional pada fantasi dan pelarian dari realitas yang sulit.

Apakah wanita bisa melupakan selingkuhannya?

Kabar baiknya adalah: Ya, sangat bisa. Namun, proses ini membutuhkan waktu. Agar benar-benar bisa melupakan, diperlukan langkah “No Contact” atau pemutusan kontak total. Ini berarti tidak ada pesan, tidak ada telepon, dan tidak mengintip media sosial.

Seiring berjalannya waktu, hubungan perselingkuhan akan memudar. Ketika realitas kembali mengambil alih, wanita sering kali menyadari bahwa apa yang ia kira sebagai “belahan jiwa” ternyata hanyalah pelarian sesaat. Banyak wanita yang telah memulihkan pernikahannya mengaku menyesal dan bahkan heran mengapa mereka pernah mempertaruhkan keluarga demi orang tersebut.

Bisakah suatu hubungan bertahan jika wanitanya selingkuh?

Ini adalah pertanyaan tersulit, tetapi jawabannya adalah: Bisa, jika kedua belah pihak mau berjuang.

Statistik menunjukkan bahwa banyak pernikahan yang tidak hanya bertahan setelah perselingkuhan, tetapi justru menjadi lebih kuat dan lebih intim dari sebelumnya. Namun, jalan menuju pemulihan ini terjal dan menyakitkan. Agar hubungan bisa selamat, ada beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi, yakni:

1. Kejujuran: Istri harus bersedia memutuskan hubungan sepenuhnya dengan pihak ketiga dan menjawab pertanyaan suami dengan jujur untuk membangun kembali kepercayaan yang hancur.

2. Kesabaran suami: Bagi suami, memaafkan adalah proses. Akan ada hari-hari di mana rasa sakit itu muncul kembali, dan ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa.

3. Memahami akar masalah: Kedua pasangan harus berani melihat ke dalam pernikahan mereka sebelum perselingkuhan terjadi. Apa yang salah? Kebutuhan apa yang tidak terpenuhi? Memperbaiki fondasi pernikahan adalah kunci agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca juga: 8 Tanda Pernikahan Anda akan Selamat dari Perselingkuhan

Perselingkuhan memang meninggalkan luka yang dalam, tetapi itu bukanlah akhir segalanya jika cinta dan komitmen masih tersisa. Jika Anda sedang berada di situasi ini, jangan ragu juga untuk mencari bantuan profesional seperti konselor pernikahan. Terkadang, kita membutuhkan pihak ketiga yang netral untuk membantu mengurai benang kusut dalam rumah tangga dan menemukan jalan kembali kepada satu sama lain. (MB/AY/SW/Foto: Freepik)