BABY

Wajib Tahu! Kadar Bilirubin Normal pada Bayi dan Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Melihat kulit bayi tampak kekuningan dalam beberapa hari pertama kehidupannya tentu bisa membuat Moms merasa khawatir. Kondisi ini memang cukup umum terjadi pada bayi baru lahir dan sering kali berkaitan dengan peningkatan kadar bilirubin dalam darah.

Bilirubin merupakan zat kuning yang terbentuk saat sel darah merah tua dipecah oleh tubuh. Pada bayi baru lahir, hati belum cukup matang untuk memproses bilirubin dengan cepat, sehingga kadarnya bisa menumpuk di dalam darah dan membuat warna kulit serta bagian putih mata menjadi kuning.

Nah, kadar bilirubin pada bayi bisa berbeda-beda, tergantung usia bayi, usia kehamilan, serta kondisi kesehatan lainnya. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami kadar bilirubin normal pada bayi dan mengenali tanda-tanda yang perlu diwaspadai.

Mengapa tidak ada satu angka bilirubin normal untuk semua bayi?

Bila berbicara tentang bilirubin, sebagai orang awam mungkin Anda akan bertanya "berapa batas normal bilirubin bayi?". Sayangnya, tidak ada satu angka baku karena metabolisme hati bayi baru lahir masih berkembang.

Seperti telah disinggung sebelumnya, kadar bilirubin pada bayi bisa berbeda-beda, begitupun dengan kadar bilirubin yang perlu diwaspadai. Berikut beberapa faktor yang menentukan seberapa besar risiko yang ditimbulkan oleh kadar bilirubin tertentu:

  • Usia bayi dalam jam

Bayi berusia 24 jam dengan kadar bilirubin 12 mg/dL jauh lebih mengkhawatirkan dibanding bayi berusia 72 jam dengan kadar yang sama.

  • Usia kehamilan saat lahir

Bayi prematur (lahir sebelum 37 minggu) memiliki hati yang lebih belum matang, sehingga ambang batas amannya lebih rendah.

  • Faktor risiko tambahan

Golongan darah yang tidak cocok antara ibu dan bayi, memar akibat proses persalinan, infeksi, atau adanya saudara kandung yang pernah menjalani fototerapi, semua ini bisa meningkatkan risiko.

Baca juga: Karotenemia pada Bayi, Sebabkan Warna Kulit Bayi Kuning

Perbedaan bilirubin total, transkutan, direk, dan indirek

Bilirubin memiliki beberapa jenis karena mengalami perubahan bentuk dan proses yang berbeda di dalam tubuh, terutama saat tubuh memecah sel darah merah. Mengetahui jenis-jenis dan memahami perbedaan bilirubin penting karena setiap jenis bilirubin memiliki implikasi yang berbeda terhadap kesehatan bayi. Berikut beberapa jenis bilirubin dan perbedaanya:

  • Bilirubin total

Bilirubin total adalah jumlah keseluruhan bilirubin dalam darah, yang mencakup semua jenisnya. Angka inilah yang paling sering menjadi acuan utama dalam memutuskan apakah diperlukan penanganan atau tidak.

  • Bilirubin transkutan

Bilirubin transkutan adalah cara untuk memperkirakan kadar bilirubin atau zat penyebab kulit dan mata bayi tampak kuning, tanpa perlu mengambil darah. Pemeriksaannya menggunakan alat khusus yang ditempelkan pada kulit bayi, biasanya di bagian dahi atau dada. Alat ini akan membaca warna kulit bayi dan memberikan perkiraan kadar bilirubin.

  • Bilirubin indirek (tak terkonjugasi)

Ini adalah bentuk bilirubin yang belum diproses oleh hati. Sebagian besar kuning pada bayi baru lahir disebabkan oleh jenis ini. Kadar yang sangat tinggi berpotensi berbahaya karena bilirubin indirek dapat menembus sawar darah-otak dan menyebabkan kerusakan neurologis yang disebut kernikterus.

  • Bilirubin Direk (Terkonjugasi)

Bilirubin yang sudah diproses oleh hati dan siap dibuang melalui empedu. Jika kadar bilirubin direk meningkat (biasanya > 1 mg/dL atau > 20% dari total), ini bisa menjadi tanda masalah pada hati atau saluran empedu, dan perlu penanganan lebih lanjut segera.

Cara membaca bilirubin berdasarkan usia dalam jam, usia kehamilan, dan faktor risiko

Kadar bilirubin pada bayi perlu dilihat bersama dengan usia bayi dalam hitungan jam, usia kehamilan saat lahir, dan faktor risiko yang dimiliki bayi. Karena itu, angka bilirubin yang sama bisa memiliki arti berbeda pada dua bayi yang berbeda. Nah, berikut penjelasan mengenai cara membaca bilirubin.

1. Membaca bilirubin sesuai usia bayi dalam jam

Kadar bilirubin bayi biasanya dibandingkan dengan usia bayi dalam jam sejak lahir. Jadi, bayi berusia 24 jam, 48 jam, dan 72 jam tidak menggunakan patokan yang sama.

Seiring bertambahnya usia bayi, kadar bilirubin memang dapat meningkat pada beberapa hari pertama setelah lahir. Karena itu, dokter tidak hanya melihat angka bilirubin, tetapi juga kapan pemeriksaan tersebut dilakukan.

Untuk bayi yang lahir cukup bulan dan sehat, rentang kadar bilirubin normal adalah sebagai berikut:

Usia < 24 jam: < 5 mg/dL

Usia 24 - 48 jam: < 10 mg/dL

Usia 49 - 72 jam: < 12 mg/dL

Usia > 72 jam: < 15 mg/dL

2. Membaca bilirubin sesuai usia kehamilan

Bayi yang lahir prematur atau dengan usia kehamilan lebih muda memiliki risiko lebih besar mengalami masalah akibat kadar bilirubin yang tinggi. Organ hati mereka masih belum matang sepenuhnya sehingga kemampuan tubuh untuk memproses dan membuang bilirubin juga masih berkembang.

Karena itu, batas kadar bilirubin yang perlu mendapat perhatian dapat berbeda berdasarkan usia kehamilan. Bayi yang lahir pada usia kehamilan 35 minggu, misalnya, tidak selalu menggunakan patokan yang sama dengan bayi yang lahir cukup bulan.

Semakin muda usia kehamilan, dokter biasanya akan lebih berhati-hati dalam memantau kadar bilirubin bayi.

3. Membaca bilirubin sesuai faktor risiko

Selain usia bayi dan usia kehamilan, dokter juga akan melihat apakah bayi memiliki faktor risiko tertentu yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya masalah akibat bilirubin. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Bayi lahir prematur atau memiliki usia kehamilan kurang dari 38 minggu.
  • Bayi tampak kuning dalam 24 jam pertama setelah lahir.
  • Adanya kemungkinan pemecahan sel darah merah yang lebih cepat, misalnya karena ketidakcocokan golongan darah atau kondisi tertentu seperti defisiensi G6PD.
  • Bayi mengalami infeksi berat atau kondisi medis yang tidak stabil.
  • Kadar albumin yang rendah.
  • Riwayat orang tua atau saudara kandung yang pernah membutuhkan fototerapi atau transfusi tukar akibat kuning pada bayi.
  • Bayi mengalami memar atau benjolan pada kepala setelah proses persalinan.
  • Bayi tidak mendapatkan asupan ASI yang cukup.

Kapan fototerapi atau penanganan lain dipertimbangkan?

Ketika kadar bilirubin bayi meningkat, tidak semua bayi langsung membutuhkan fototerapi. Dokter akan melihat kondisi bayi secara keseluruhan dan menilai apakah kadar bilirubinnya sudah mencapai batas yang memerlukan penanganan.

Salah satu penanganan yang paling umum adalah fototerapi, yaitu terapi menggunakan cahaya khusus untuk membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh bayi melalui urine dan feses.

Fototerapi biasanya dipertimbangkan jika:

  • Kadar bilirubin bayi sudah mencapai batas terapi sesuai usia bayi dalam hitungan jam.
  • Bayi lahir prematur atau memiliki usia kehamilan yang lebih muda.
  • Bayi memiliki faktor risiko tertentu yang membuat bilirubin lebih berisiko menimbulkan komplikasi.
  • Kadar bilirubin meningkat dengan cepat.
  • Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar bilirubin mendekati atau melewati batas yang ditentukan dokter.

Penting untuk diketahui bahwa batas dimulainya fototerapi tidak sama untuk semua bayi. Dokter akan mempertimbangkan usia bayi dalam jam, usia kehamilan, kadar bilirubin, serta faktor risiko lainnya.

Baca juga: Ini Ciri Bayi Kuning yang Sudah Sembuh, Moms

Tanda bayi kuning yang perlu pemeriksaan segera

Kebanyakan kondisi bayi kuning akan membaik sendiri dalam 1 hingga 2 minggu tanpa penanganan khusus. Namun, ada tanda-tanda tertentu yang tidak boleh diabaikan dan mengindikasikan perlu dibawa segera ke dokter atau unit gawat darurat, seperti:

  • Kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir.
  • Kuning menyebar hingga ke perut, lengan, kaki, atau telapak tangan.
  • Bayi tampak sangat mengantuk, sulit dibangunkan, atau tidak mau menyusu.
  • Bayi menangis dengan nada melengking yang tidak biasa.
  • Bayi mengalami demam (suhu > 38°C pada bayi baru lahir adalah kondisi darurat).
  • Kuning tidak membaik setelah 2 minggu pada bayi cukup bulan, atau setelah 3 minggu pada bayi prematur.
  • Urine berwarna gelap atau feses berwarna sangat pucat/putih (bisa mengindikasikan masalah pada hati atau saluran empedu).

Memahami kadar bilirubin memang terasa rumit. Namun percayalah dengan insting Anda sebagai orang tua. Saat Moms melihat kondisi yang telah disebutkan di atas, segera bawa Si Kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. (MB/RA/RF/Foto: Jcomp/Dok.Freepik)