Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Di masa kehamilan, tubuh seorang wanita mengalami banyak perubahan, termasuk perubahan pada cairan yang dikeluarkan tubuh. Dua jenis cairan yang sering menjadi perbincangan adalah air ketuban dan keputihan. Namun, bagaimana cara membedakan keduanya?
Beda air ketuban dan keputihan
Walau sama-sama cairan, bentuk dan fungsi keduanya tentu jauh berbeda. Air ketuban adalah cairan bening atau agak kekuningan yang mengelilingi bayi di dalam rahim selama kehamilan. Cairan ini terletak dalam kantong ketuban, yang berfungsi sebagai pelindung bayi dari guncangan dan membantu perkembangan organ-organ penting, seperti paru-paru.
Sedangkan keputihan (atau dalam istilah medis dikenal sebagai leukorea) adalah cairan alami yang dikeluarkan oleh vagina. Pada ibu hamil, produksi cairan ini biasanya meningkat karena pengaruh hormonal. Keputihan normal biasanya bening atau berwarna putih susu, tidak berbau, dan tidak menyebabkan rasa gatal.
Cara membedakan air ketuban dan keputihan
Membedakan air ketuban dan keputihan sangat penting, terutama jika Moms merasa ada cairan yang keluar dalam jumlah banyak. Berikut ini beberapa perbedaan utamanya.
Warna
- Warna ketuban: Biasanya bening, tapi kadang bisa terlihat kekuningan atau kehijauan jika terjadi indikasi tertentu seperti infeksi.
- Warna keputihan: Berwarna putih susu atau transparan.
Konsistensi
- Air ketuban: Cairan seperti air, kurang kental, dan bisa mengalir tanpa terasa.
- Keputihan: Umumnya lebih kental dan tidak terlalu cair.
Aroma
- Air ketuban: Bisa memiliki aroma yang sedikit manis.
- Keputihan: Biasanya tidak berbau. Namun, jika berbau tidak sedap, bisa jadi ada infeksi yang perlu diperiksa oleh dokter.
Jumlah
- Air ketuban: Keluar dalam jumlah banyak, terkadang secara tiba-tiba seperti “banjir kecil“, Moms.
- Keputihan: Biasanya hanya sedikit dan tidak mengalir terus-menerus.
Sensasi yang dirasakan
- Air ketuban: Keluar tanpa bisa dikontrol, sering kali tidak terasa saat mulai pecah.
- Keputihan: Tidak menyebabkan sensasi yang mencolok kecuali jika berlebih dan disertai infeksi yang menimbulkan gatal atau rasa terbakar.
Jika Moms merasa cairan yang keluar dari vagina cukup banyak dan tidak yakin apakah itu air ketuban atau hanya keputihan, segera konsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisi Anda dan bayi aman.
Manfaat air ketuban selama kehamilan
Air ketuban memiliki peran sangat penting dalam perkembangan bayi selama masa kehamilan, yakni:
- Melindungi bayi dari guncangan. Air ketuban bertindak sebagai bantalan, melindungi bayi dari benturan atau tekanan mendadak di luar tubuh ibu.
- Mendukung perkembangan organ bayi. Cairan ini membantu perkembangan organ vital seperti paru-paru dan saluran cerna bayi saat ia menelan dan menghirup air ketuban.
- Menjaga suhu tubuh bayi. Air ketuban menjaga suhu tubuh bayi tetap stabil di dalam rahim, sehingga bayi tetap nyaman.
- Melindungi dari infeksi. Selaput kantong ketuban membentuk penghalang yang melindungi bayi dari infeksi.
- Memudahkan gerakan bayi. Dengan adanya air ketuban, bayi dapat bergerak dengan bebas sehingga otot dan tulangnya berkembang dengan optimal.
Meskipun begitu, kondisi air ketuban yang terlalu sedikit (oligohidramnion) atau terlalu banyak (polihidramnion) bisa menjadi tanda adanya masalah dalam kehamilan dan membutuhkan penanganan segera.
Baca juga: Keputihan Normal saat Hamil, Seperti Apa Ciri-Cirinya?
Penyebab keputihan
Keputihan selama kehamilan adalah hal yang umum terjadi, tapi beberapa faktor bisa memengaruhinya. Berikut ini beberapa penyebab utamanya.
1. Perubahan hormon. Selama kehamilan, hormon estrogen meningkat drastis, yang memicu produksi lendir atau cairan di leher rahim dan vagina.
2. Sirkulasi darah yang meningkat. Aliran darah yang lebih deras ke area panggul selama kehamilan juga bisa menyebabkan produksi cairan vagina meningkat.
3. Infeksi vagina. Jika keputihan disertai perubahan warna, bau tidak sedap, atau rasa gatal, bisa jadi ini tanda infeksi seperti vaginosis bakteri atau infeksi jamur. Sebaiknya segera periksakan ke dokter.
4. Stres atau tegang. Stres juga bisa menjadi pemicu keputihan abnormal. Karena itu, penting bagi bumil untuk menjaga kesehatan mental selama kehamilan.
5. Ada benda asing. Kondisi seperti penggunaan tampon atau pemberian obat vaginal juga bisa memengaruhi keputihan.
Baca juga: 5 Penyebab Keputihan Abnormal saat Hamil
Itulah Perbedaan air ketuban dan keputihan. Untuk mencegah atau mengatasi keputihan, Moms bisa gunakan pakaian dalam berbahan katun yang menyerap keringat, rutin mengganti pakaian dalam, menghindari sabun atau vaginal douche yang mengganggu keseimbangan pH vagina, dan jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika keputihan sudah disertai dengan bau menyengat dan berubah warna. (M&B/Ayu/SW/Foto: Freepik)
