Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Keguguran adalah salah satu pengalaman paling berat yang dapat dialami seorang ibu hamil. Namun, ada kondisi yang mungkin lebih rumit lagi, yaitu keguguran yang gagal atau incomplete miscarriage. Kondisi ini terjadi ketika janin telah meninggal di dalam kandungan, tetapi tubuh ibu belum mengeluarkannya secara alami.
Maka dari itu, keguguran yang gagal memerlukan perhatian medis khusus agar dapat ditangani dengan tepat. Apa saja tanda-tanda keguguran yang gagal dan penyebabnya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Apa itu keguguran yang gagal?
Keguguran yang gagal, atau dalam istilah medis disebut incomplete miscarriage, adalah kondisi di mana proses keguguran tidak terjadi secara sempurna. Berbeda dengan keguguran lengkap yang mengeluarkan seluruh jaringan kehamilan, pada keguguran yang gagal masih tersisa sebagian jaringan plasenta atau janin di dalam rahim.
Pada kondisi ini, janin berhenti berkembang dan meninggal, tetapi serviks tetap tertutup dan tubuh tidak menunjukkan tanda-tanda keguguran yang biasa terjadi. Kondisi ini berbeda dengan keguguran spontan di mana tubuh secara alami mengeluarkan janin yang telah meninggal. Sisa jaringan yang tertinggal ini bisa menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan segera dan tepat.
Bisa terjadi pada kehamilan trimester pertama maupun kedua, keguguran jenis ini sering kali tidak disadari karena gejala kehamilan seperti mual dan payudara yang sensitif mungkin masih berlanjut untuk sementara waktu. Hal ini terjadi karena hormon kehamilan masih diproduksi oleh plasenta meskipun janin telah meninggal.
Baca juga: Kemungkinan Hamil Kembali pada Wanita yang Pernah Keguguran
Ciri-ciri keguguran yang gagal
Mengenali gejala keguguran yang gagal sangat penting untuk mendapatkan penanganan yang tepat waktu. Meskipun tidak mudah dikenali, berikut ini beberapa tanda yang perlu Moms waspadai.
1. Pendarahan yang berlangsung lama
Perdarahan vagina yang berlangsung lebih dari dua minggu setelah keguguran merupakan salah satu tanda utama keguguran yang gagal. Darah yang keluar mungkin berwarna merah segar atau kecokelatan, dengan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga berat.
Baca juga: Ciri-Ciri Keguguran Tanpa Perdarahan yang Perlu Anda Waspadai
2. Nyeri perut yang persisten
Nyeri atau kram di bagian bawah perut yang ringan bisa menjadi tanda, meskipun tidak semua wanita mengalaminya. Rasa sakit ini biasanya tidak seberat pada keguguran biasa. Selain itu, keguguran yang gagal bisa menyebabkan rasa sakit atau kram di perut bagian bawah yang tidak kunjung mereda setelah beberapa hari. Gejala ini bisa menjadi indikasi bahwa ada sisa jaringan kehamilan yang mati di dalam rahim.
3. Demam dan menggigil
Suhu tubuh yang tinggi disertai menggigil dapat mengindikasikan adanya infeksi akibat sisa jaringan kehamilan yang tertinggal di dalam rahim. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera.
4. Keputihan berbau tidak sedap
Keputihan yang berbau menyengat dan tidak normal bisa menjadi tanda infeksi yang berkembang akibat keguguran yang tidak lengkap.
5. Hilangnya gejala kehamilan
Gejala kehamilan yang tiba-tiba menghilang bisa menjadi tanda peringatan. Jika mual, muntah, atau sensitivitas payudara yang biasa Anda rasakan tiba-tiba berkurang atau hilang sama sekali, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
6. Tidak terdengar detak jantung janin
Saat pemeriksaan rutin, dokter mungkin tidak dapat mendeteksi detak jantung janin menggunakan doppler atau USG. Ini adalah salah satu indikator utama yang biasanya terdeteksi selama kontrol kehamilan.
Penyebab keguguran yang gagal
Keguguran yang gagal bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yakni:
1. Kontraksi rahim yang lemah: Otot rahim yang tidak berkontraksi dengan kuat bisa menyebabkan jaringan kehamilan tidak terevakuasi sempurna.
2. Posisi atau bentuk rahim yang tidak normal: Kelainan anatomi rahim dapat memengaruhi proses pengeluaran jaringan secara alami.
3. Ukuran kehamilan yang relatif besar: Pada kehamilan trimester kedua, ukuran janin dan plasenta yang sudah cukup besar dapat menyulitkan proses evakuasi alami.
4. Gangguan pembekuan darah: Kondisi ini bisa memengaruhi proses pendarahan dan kontraksi rahim selama keguguran.
Baca juga: Bagaimana Mencegah Keguguran saat Hamil Muda?
Penanganan keguguran yang gagal
Penanganan keguguran yang gagal harus dilakukan oleh tenaga medis profesional. Beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan pada kondisi keguguran gagal, yakni:
1. Observasi dan pemantauan: Pada beberapa kasus ringan, dokter mungkin akan melakukan observasi sambil menunggu tubuh mengeluarkan sisa jaringan secara alami.
2. Obat-obatan: Dokter dapat meresepkan obat untuk membantu kontraksi rahim dan mempercepat pengeluaran sisa jaringan.
3. Kuretase: Prosedur pembedahan kecil untuk membersihkan sisa jaringan dari dalam rahim. Ini adalah metode yang paling umum dan efektif.
4. Antibiotik: Jika terjadi infeksi, dokter akan memberikan antibiotik untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Cara mencegah keguguran yang gagal
Untuk mencegah keguguran yang gagal, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter kandungan guna mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Upaya pencegahan keguguran berulang juga penting, termasuk menerapkan gaya hidup sehat, mengonsumsi asam folat, menjaga berat badan ideal, tidak merokok dan minum alkohol, serta mengelola stres.
Itulah penjelasan mengenai keguguran yang gagal. Menghadapi keguguran yang gagal tidak hanya menantang secara fisik, tetapi juga emosional. Dukungan dari keluarga, teman, dan tenaga medis sangat penting dalam proses pemulihan. Karena itu, jangan ragu untuk mencari bantuan psikologis jika diperlukan. (MB/AY/GA/Foto: Freepik)
