Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Buat Moms yang punya bayi, Anda mungkin pernah mengalami saat bayi Anda terkena demam tinggi, Si Kecil mengalami kejang. Namun, bagaimana jika kejang tanpa demam terjadi pada bayi? Kondisi ini tentunya bisa bikin Anda panik ya, Moms.
Kejang tanpa demam pada bayi bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan sementara hingga tanda masalah kesehatan tertentu. Nah, agar tidak salah langkah menangani Si Kecil, yuk, cari tahu apa saja penyebab, gejala, dan cara penanganan yang perlu Moms ketahui saat bayi mengalami kejang tanpa demam.
Apa itu kejang tanpa demam?
Kejang tanpa demam atau afebrile seizure adalah kondisi ketika bayi mengalami kejang seperti gerakan tak terkendali, kekakuan otot, atau kehilangan kesadaran tanpa adanya peningkatan suhu tubuh.
Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan metabolik, kelainan pada otak, infeksi ringan, hingga masalah neurologis tertentu. Karena penyebabnya cukup beragam, penting bagi Moms untuk membawa Si Kecil ke dokter agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Baca juga: Kenapa Bayi Sering Kaget Seperti Kejang? Ini Penjelasannya, Moms
Ciri-ciri kejang tanpa demam pada bayi
Agar tidak panik dan bisa mengambil langkah tepat, penting bagi Moms untuk mengenali ciri-ciri kejang tanpa demam pada bayi sejak dini.
1. Gerakan otot yang tiba-tiba dan tidak terkendali
Bayi mungkin tampak menegang, menggeliat, atau tubuhnya bergetar tanpa bisa dikendalikan. Kadang hanya satu bagian tubuh yang bergerak, seperti tangan atau kaki, tetapi bisa juga seluruh tubuh. Kondisi ini sering membuat orang tua panik karena terlihat seperti kejang demam, padahal suhu tubuh bayi normal.
2. Perubahan kesadaran
Saat kejang terjadi, bayi bisa tampak melamun, menatap kosong, atau tidak merespons panggilan. Setelah kejang berakhir, ia bisa tampak bingung atau mengantuk selama beberapa menit.
3. Kejang bersifat fokal atau umum
Kejang fokal hanya terjadi pada satu bagian tubuh, misalnya satu sisi wajah atau satu lengan, sementara kejang umum melibatkan seluruh tubuh. Jenis kejang ini membantu dokter untuk menentukan area otak yang mungkin terpengaruh.
4. Durasi relatif singkat tetapi berulang
Sebagian besar kejang berlangsung hanya beberapa detik hingga satu menit. Namun, dalam beberapa kasus, kejang bisa terjadi berulang kali dalam sehari, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut.
5. Tanpa demam sebelum atau selama kejang
Berbeda dengan kejang demam, suhu tubuh bayi tetap normal sebelum, selama, dan setelah kejang. Ini menjadi ciri utama yang membedakan kejang tanpa demam dari kejang yang disebabkan oleh infeksi atau panas tubuh tinggi.
6. Setelah kejang, bayi kembali ke kondisi normal
Biasanya, setelah kejang berhenti, bayi tampak pulih seperti semula dan bisa beraktivitas lagi. Namun, jika bayi terlihat lesu, sulit sadar, atau kejang terjadi berulang, segera bawa ia ke dokter ya, Moms.
7. Mungkin disertai faktor pencetus selain demam
Kejang tanpa demam bisa dipicu oleh gangguan metabolik (misalnya kadar gula rendah), dehidrasi, infeksi saluran pencernaan ringan, atau kelainan pada sistem saraf pusat. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebab pastinya.
Baca juga: Ciri-Ciri Kejang pada Bayi 0-6 Bulan yang Harus Orang Tua Kenali
Bahaya kejang tanpa demam pada bayi
Kejang tanpa demam pada bayi, meskipun tidak disebabkan oleh demam, tetap bisa menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Berikut ini beberapa bahaya yang perlu diwaspadai, Moms.
Bahaya jangka pendek
Cedera fisik. Selama kejang, bayi dapat terjatuh atau terbentur benda keras, yang berpotensi menyebabkan luka atau cedera lainnya.
Gangguan pernapasan dan sirkulasi. Kejang yang berlangsung lama bisa mengganggu pernapasan dan sirkulasi darah, meningkatkan risiko hipoksia (kekurangan oksigen) yang dapat merusak otak.
Bahaya jangka panjang
Gangguan perkembangan dan kognitif. Kejang berulang atau berkepanjangan bisa memengaruhi perkembangan motorik dan kognitif bayi, berpotensi menyebabkan keterlambatan perkembangan.
Peningkatan risiko epilepsi. Bayi yang mengalami kejang tanpa demam memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan epilepsi di kemudian hari.
Penyebab kejang tanpa demam pada bayi
Kejang tanpa demam bisa disebabkan oleh berbagai kondisi medis, seperti:
Gangguan metabolik: Misalnya hipoglikemia (kadar gula darah rendah) atau hiponatremia (kadar natrium rendah).
Infeksi sistem saraf pusat: Seperti meningitis atau ensefalitis.
Cedera otak: Akibat trauma atau pendarahan pada otak yang bisa terjadi setelah benturan atau kecelakaan. Untuk itu, Moms harus selalu memastikan Si Kecil berada di lingkungan yang aman untuk meminimalkan risiko ini.
Kelainan struktur otak: Seperti malformasi atau gangguan perkembangan otak.
Mengingat potensi bahaya tersebut, penting bagi Anda untuk segera membawa bayi ke fasilitas kesehatan jika mengalami kejang tanpa demam, Moms. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi serius di kemudian hari.
Jangan menunda memeriksakan Si Kecil, karena kejang tanpa demam pada bayi bisa menjadi tanda adanya kondisi medis yang membutuhkan penanganan segera. Dengan langkah cepat, Moms tidak hanya melindungi keselamatan Si Kecil, tetapi juga membantu memastikan tumbuh kembangnya tetap optimal. (MB/YE/SW/Foto: Pvproductions/Freepik)
