Type Keyword(s) to Search
KID

Satu Anak Kena Campak Bisa Menularkan 18 Anak Lainnya! Ini Cara Mencegahnya

Satu Anak Kena Campak Bisa Menularkan 18 Anak Lainnya! Ini Cara Mencegahnya

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Penyakit campak masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang perlu diwaspadai oleh orang tua, termasuk di Indonesia. Meski sering dianggap sebagai penyakit anak yang “biasa”, campak sebenarnya sangat menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, campak adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus morbillivirus dan umumnya menyerang anak-anak. Penyakit ini termasuk dalam kelompok penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) sehingga pencegahan melalui vaksinasi menjadi langkah paling penting untuk melindungi anak. 

Agar Moms lebih waspada, yuk kenali lebih dalam mengenai penyakit campak, mulai dari penyebab, gejala, hingga cara pencegahannya.

Apa itu penyakit campak?

Campak adalah penyakit infeksi virus yang sangat menular dan dapat menyerang siapa saja, terutama anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi. Virus campak menyebar dengan cepat melalui udara atau percikan air liur saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. 

Seseorang juga dapat tertular hanya dengan berada dekat dengan penderita campak, karena virus dapat menyebar melalui droplet atau partikel udara di sekitarnya. 

Bahkan, dalam komunitas yang belum memiliki kekebalan terhadap campak, satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada 12–18 orang lainnya. Hal ini menjadikan campak sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia. 

Karena tingkat penularannya yang sangat tinggi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya imunisasi campak secara luas untuk mencegah terjadinya wabah di masyarakat.

Baca juga: Tanda-Tanda Penyakit Campak Akan Sembuh yang Perlu Moms Ketahui

Penyebab penyakit campak

Penyakit campak disebabkan oleh virus measles virus dari kelompok morbillivirus. Virus ini menyerang sistem pernapasan terlebih dahulu, kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.  Penularan virus campak biasanya terjadi melalui beberapa cara berikut:

  • Percikan air liur saat penderita batuk atau bersin
  • Kontak langsung dengan cairan dari hidung atau tenggorokan penderita
  • Menghirup udara yang terkontaminasi virus campak

Virus ini juga dapat bertahan di udara atau pada permukaan benda selama beberapa waktu, sehingga risiko penularannya cukup tinggi, terutama di lingkungan padat seperti sekolah atau tempat penitipan anak. 

Anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi atau belum pernah mengalami campak memiliki risiko lebih besar untuk terinfeksi.

Gejala campak yang perlu Moms waspadai

Gejala campak biasanya muncul sekitar 7–14 hari setelah seseorang terpapar virus. Pada tahap awal, gejalanya sering menyerupai flu sehingga kadang tidak langsung dikenali.  Beberapa gejala awal campak antara lain:

  • Demam tinggi mendadak
  • Batuk kering
  • Pilek
  • Mata merah dan berair (konjungtivitis)
  • Tubuh lemas dan tidak nafsu makan

Setelah beberapa hari, akan muncul tanda khas berupa bercak putih kecil di dalam mulut yang disebut Koplik spots. Kemudian diikuti dengan ruam kemerahan pada kulit yang biasanya dimulai dari wajah dan menyebar ke leher, dada, hingga seluruh tubuh. 

Menurut Kementerian Kesehatan RI, ruam kemerahan pada kulit yang disertai demam, batuk, dan pilek merupakan salah satu ciri khas utama penyakit campak.  Jika Moms menemukan gejala tersebut pada Si Kecil, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Baca juga: Jangan Keliru, Ini Perbedaan Campak dan Rubella yang Moms Perlu Tahu

Apakah campak berbahaya?

Moms mungkin pernah mendengar bahwa campak adalah penyakit yang akan sembuh sendiri. Namun sebenarnya, campak bisa menjadi berbahaya apabila menimbulkan komplikasi. Menurut Kementerian Kesehatan RI, komplikasi campak dapat meliputi:

  • Diare berat
  • Pneumonia (infeksi paru-paru)
  • Infeksi telinga
  • Radang otak (ensefalitis)
  • Gangguan penglihatan
  • Bahkan kematian pada kasus berat  

Risiko komplikasi biasanya lebih tinggi pada bayi, anak dengan gizi buruk, serta anak yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Cara mencegah penyakit campak

Kabar baiknya, penyakit campak dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi. Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa imunisasi campak-rubella (MR) merupakan cara paling efektif untuk mencegah penularan campak.  Di Indonesia, imunisasi MR termasuk dalam program imunisasi rutin anak dengan jadwal:

  • Usia 9 bulan
  • Usia 18 bulan (booster)
  • Saat anak kelas 1 SD atau usia sekitar 5–7 tahun  

Vaksin MR dapat melindungi anak dari dua penyakit sekaligus, yaitu campak dan rubella. Selain itu, vaksin ini telah direkomendasikan oleh WHO dan digunakan secara luas di berbagai negara karena terbukti aman dan efektif. 

Untuk menghentikan penularan campak di masyarakat, cakupan imunisasi perlu mencapai lebih dari 95% populasi. Hal ini penting agar terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity) yang melindungi anak-anak yang belum bisa divaksin, seperti bayi yang masih terlalu kecil. 

Kapan Moms perlu membawa anak ke dokter?

Segera periksakan anak ke dokter jika mengalami gejala seperti:

  • Demam tinggi lebih dari tiga hari
  • Ruam kemerahan yang menyebar di tubuh
  • Mata merah dan sensitif terhadap cahaya
  • Anak tampak sangat lemas atau sulit makan dan minum

Diagnosis dan penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Namun sebelum itu terjadi, Moms jangan lupa memastikan jadwal imunisasi Si Kecil lengkap sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Dengan imunisasi yang tepat, kita bisa membantu melindungi generasi masa depan dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini. (MB/TW/Foto: Canva)