Type Keyword(s) to Search
TODDLER

Waspada Gejala DBD pada Anak 2 Tahun, Ini Penanganan yang Tepat

Waspada Gejala DBD pada Anak 2 Tahun, Ini Penanganan yang Tepat

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Salah satu ketakutan terbesar saat musim hujan tiba adalah risiko Demam Berdarah Dengue (DBD).  Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini memang membutuhkan perhatian ekstra, terutama jika menyerang balita yang sistem kekebalan tubuhnya masih terus berkembang. Untuk itu perlu memahami gejala DBD pada anak 2 tahun.

Lalu, apa saja gejala DBD pada anak 2 tahun? Bagaimana awal mendeteksi DBD pada anak? Dan bagaimana cara menanganinya? Yuk, cari tahu selengkapnya dalam artikel ini, Moms. 

Gejala DBD pada anak 2 tahun 

Pada anak usia 2 tahun, mereka belum bisa mengungkapkan rasa sakit dengan jelas, sehingga observasi dari orang tua menjadi sangat penting. Berikut adalah beberapa ciri utama yang perlu Moms perhatikan.

1. Demam tinggi mendadak

Berbeda dengan demam karena flu biasa yang naik secara bertahap, demam pada penderita DBD biasanya melonjak sangat cepat. Suhu tubuh Si Kecil bisa tiba-tiba mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius dan sulit turun meskipun sudah diberikan obat penurun panas.

2. Bintik merah pada kulit

Ini adalah salah satu tanda klasik DBD. Ruam atau bintik merah ini biasanya muncul di area dada, tangan, atau kaki. Untuk membedakannya dengan gigitan nyamuk biasa, cobalah regangkan kulit Si Kecil perlahan. Jika bintik merah tersebut tidak pudar atau hilang saat ditekan, itu bisa menjadi indikasi perdarahan ringan di bawah kulit.

Baca juga: Anak Terkena Demam Berdarah? Ini Pertolongan Pertama yang Wajib Diketahui

3. Perubahan perilaku dan kelelahan ekstrem

Anak yang biasanya aktif berlarian akan tampak sangat lemas. Mereka mungkin akan lebih sering menangis, sangat rewel, dan menolak untuk diajak bermain. Rasa nyeri pada otot dan sendi yang menyertai DBD membuat tubuh mereka terasa sangat tidak nyaman.

4. Gangguan pencernaan

Gejala lain yang sering muncul adalah mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. Si Kecil mungkin akan menolak ASI, susu, atau makanan favoritnya. Beberapa anak juga bisa mengalami sakit perut atau diare ringan.

Bagaimana cara mendeteksi demam berdarah pada anak?

Mendeteksi DBD sedini mungkin dapat mencegah kondisi Si Kecil bertambah parah. Selain memerhatikan ciri-ciri fisik di atas, ada beberapa langkah penting yang bisa Moms lakukan untuk memastikan kondisi kesehatan anak.

1. Memahami siklus pelana kuda

Penyakit DBD memiliki pola demam yang sangat khas, sering disebut sebagai siklus pelana kuda. Pada hari ke-3 atau ke-4, demam anak mungkin akan turun secara drastis, seolah-olah ia sudah sembuh. Hati-hati, Moms, ini justru merupakan fase kritis. Pada fase inilah risiko kebocoran plasma darah dan syok paling tinggi terjadi. Jika suhu tubuh anak turun tetapi ia justru terlihat semakin lemas, tangan dan kakinya dingin, serta jarang buang air kecil, segera bawa ke rumah sakit.

2. Pemeriksaan laboratorium medis

Diagnosis pasti DBD hanya bisa dilakukan melalui tes darah di fasilitas kesehatan terdekat. Dokter biasanya akan memeriksa kadar trombosit (keping darah) dan hematokrit (kekentalan darah). Tes spesifik seperti NS1 juga dapat dilakukan pada awal masa demam untuk mendeteksi keberadaan virus dengue di dalam tubuh Si Kecil.

3. Pantau tanda-tanda dehidrasi

Karena balita sangat rentan kehilangan cairan akibat demam dan muntah, Moms harus selalu memantau hidrasinya. Perhatikan apakah mulut anak tampak kering, ia menangis tanpa air mata, atau popoknya tetap kering selama lebih dari 4 hingga 6 jam. Dehidrasi adalah komplikasi DBD yang sangat berbahaya bagi balita.

Baca juga: Tips Mencegah Dehidrasi pada Anak yang Sedang Sakit

Cara menangani DBD pada anak di bawah 2 tahun

Secara medis, demam berdarah disebabkan oleh virus, yang berarti penyakit ini bersifat self-limiting disease atau dapat sembuh dengan sendirinya seiring dengan perlawanan dari sistem imun tubuh anak. Tidak ada obat khusus atau antibiotik yang bisa membunuh virus dengue. Namun, hal ini bukan berarti Moms bisa merawatnya sendiri di rumah tanpa pengawasan tenaga medis. Pada balita usia 2 tahun, perjalanan penyakit ini bisa berubah menjadi sangat fatal dalam hitungan jam.

Perawatan DBD difokuskan pada terapi suportif, yaitu menjaga keseimbangan cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi dan syok. Anak mungkin memerlukan cairan infus di rumah sakit agar kondisinya tetap stabil melewati fase kritis. Membiarkan anak tanpa penanganan medis yang tepat sangat berisiko memicu Sindrom Syok Dengue (DSS) yang dapat mengancam jiwa. Jadi, meski virusnya akan hilang dengan sendirinya, pendampingan medis mutlak diperlukan untuk memastikan tubuh Si Kecil tetap kuat melawan infeksi tersebut.

Itulah beberapa gejala DBD pada anak 2 tahun serta penanganannya. Dengan mengetahui tentang gejala DBD pada anak 2 tahun dan penanganannya yang tepat, Moms sudah memiliki kendali lebih untuk melindungi kesehatan Si Kecil. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan menguras bak mandi secara rutin agar Anda dan keluarga terhindar dari gigitan nyamuk. (MB/GP/RF/Foto: Freepik)