Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Mengetahui masa subur itu penting, tapi memahami masa tidak subur wanita sama berharganya. Banyak wanita hanya fokus pada ovulasi, padahal tubuh juga memiliki fase tertentu di mana peluang kehamilan menurun drastis. Fase inilah yang sering disebut sebagai masa tidak subur.
Sayangnya, tidak semua orang tahu kapan fase ini terjadi atau bagaimana cara mengenalinya. Padahal, memahami ritme alami tubuh bisa membantu Anda merencanakan kehamilan, menjalankan KB alami, atau sekadar lebih terkoneksi dengan siklus menstruasi Anda sendiri.
Yuk, simak penjelasan mengenai ciri dari masa tidak subur wanita dan cara paling mudah untuk mengetahuinya, Moms!
Apa itu masa subur?
Masa subur adalah periode dalam siklus menstruasi ketika peluang terjadinya kehamilan berada pada titik tertinggi. Fase ini terjadi ketika ovulasi, yaitu saat sel telur matang dilepaskan dari ovarium dan siap dibuahi oleh sperma.
Biasanya ovulasi terjadi sekitar 14 hari sebelum menstruasi berikutnya, dan masa subur berlangsung sekitar 5-6 hari, terdiri dari 3-5 hari sebelum ovulasi dan 1 hari setelahnya. Hal ini karena sperma dapat hidup hingga 5 hari di dalam tubuh wanita, sementara sel telur hanya bertahan sekitar 12-24 jam setelah dilepaskan.
Baca juga: Agar Tidak Hamil, Ini Cara Mengetahui dan Menghitung Masa Subur Setelah Haid
Kapan periode tidak subur pada wanita?
Masa tidak subur adalah periode dalam siklus menstruasi ketika peluang kehamilan berada pada tingkat yang sangat rendah. Fase ini biasanya terjadi setelah ovulasi (akhir fase luteal) dan sesaat setelah menstruasi berakhir, tergantung panjang siklus setiap wanita.
Ada beberapa hal yang secara umum dapat diperhatikan dari periode tidak subur pada wanita, yakni:
1. Hari-hari setelah menstruasi (awal siklus)
Pada fase ini, ovarium sedang memulai proses pematangan sel telur baru, sehingga belum ada sel telur yang siap dibuahi. Hormon estrogen masih berada pada level rendah dan lendir serviks cenderung kental atau bahkan belum muncul, membuat sperma sulit bergerak. Karena itu, peluang terjadinya kehamilan pada fase ini sangat rendah, terutama pada wanita dengan siklus menstruasi yang teratur.
2. Fase luteal atau hari-hari setelah ovulasi
Setelah sel telur dilepaskan dan tidak dibuahi, tubuh memasuki fase luteal. Pada fase ini, sel telur sudah tidak lagi tersedia dan peluang kehamilan sangat kecil hingga menstruasi berikutnya dimulai.
Pada siklus rata-rata 28 hari, masa tidak subur biasanya terjadi pada:
- Hari 1-7 (awal setelah haid)
- Hari 16-28 (masa setelah ovulasi).
Namun, karena setiap wanita memiliki panjang siklus yang berbeda, perhitungan ini tidak selalu sama. Metode kalender, pengukuran lendir serviks, dan pengukuran suhu basal bisa membantu memperkirakan masa tidak subur dengan lebih akurat.
Apakah masa tidak subur bisa hamil?
Secara teori, peluang hamil saat masa tidak subur sangat rendah, tetapi tetap ada kemungkinan, meskipun kecil. Hal ini terjadi karena tubuh setiap wanita berbeda, dan waktu ovulasi tidak selalu jatuh pada hari yang sama setiap siklus. Ovulasi bisa maju atau mundur karena stres, perubahan hormon, gangguan tidur, penyakit, hingga perubahan berat badan.
Selain itu, sperma dapat bertahan hidup hingga 3-5 hari di dalam saluran reproduksi wanita.Jadi, jika ovulasi terjadi lebih cepat dari perkiraan, sperma yang masuk saat masa tidak subur awal siklus tetap bisa membuahi sel telur. Pada fase luteal (setelah ovulasi), peluang hamil nyaris tidak ada karena sel telur sudah tidak tersedia.
Baca juga: Pijat Kesuburan, Bisakah Membantu Perempuan untuk Segera Hamil?
Cara mengetahui masa tidak subur wanita
Menentukan masa tidak subur bisa dilakukan dengan beberapa metode sederhana yang memantau perubahan alami tubuh. Berikut ini cara yang paling umum dan cukup akurat bila dilakukan secara konsisten, Moms.
1. Metode kalender (calendar method)
Metode ini menghitung masa subur dan tidak subur berdasarkan panjang siklus menstruasi selama 6-12 bulan terakhir. Jika Anda memiliki siklus teratur, hari-hari di awal siklus setelah menstruasi selesai dan hari-hari setelah ovulasi (fase luteal) biasanya merupakan masa tidak subur. Metode ini efektif untuk memberi gambaran umum, tetapi tidak cocok bagi wanita dengan siklus tidak teratur.
2. Mengamati lendir serviks
Lendir serviks berubah sesuai fase siklus. Saat masa subur, lendir cenderung jernih, licin, dan elastis mirip putih telur mentah. Sementara pada masa tidak subur, lendir serviks biasanya kental, lengket, sedikit keruh, atau bahkan sangat sedikit sehingga vagina terasa lebih “kering”. Perubahan ini membantu mengetahui kapan peluang kehamilan rendah.
3. Mengukur suhu basal tubuh
Suhu basal tubuh sedikit meningkat (sekitar 0,2-0,5° C) setelah ovulasi akibat peningkatan hormon progesteron. Ketika suhu sudah naik dan tetap stabil selama beberapa hari, itu menandakan Anda telah melewati ovulasi dan memasuki masa tidak subur (fase luteal). Metode ini lebih akurat jika dilakukan setiap pagi pada waktu yang sama.
4. Menggunakan aplikasi pelacak siklus
Banyak aplikasi kesehatan wanita membantu memperkirakan masa subur dan tidak subur berdasarkan pola siklus menstruasi Anda. Aplikasi ini menggabungkan data kalender, gejala tubuh, hingga lendir serviks untuk memberi prediksi yang lebih personal. Meskipun tidak 100% akurat, ini memudahkan pemantauan siklus jangka panjang.
Jika Anda memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur, sedang merencanakan kehamilan atau justru ingin mencegah kehamilan secara lebih efektif, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan untuk mengetahui lebih lanjut terkait masa tidak subur wanita. Konsultasi langsung memungkinkan Anda mendapatkan pemeriksaan dan saran yang lebih sesuai dengan kondisi kesehatan reproduksi Anda. (MB/YE/SW/Foto: Tirachardz/Freepik)