KID

7 Penyebab Telat Haid pada Remaja dan Cara Mengatasinya


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Sebagai orang tua, wajar jika Moms merasa cemas saat mengetahui siklus menstruasi anak perempuan Anda tidak lancar. Apakah kondisi ini normal? Agar Moms tak bingung, yuk cari tahu penyebab telat haid pada remaja berikut ini, Moms!

Menstruasi pertama atau menarche adalah tonggak penting dalam kehidupan seorang remaja perempuan. Namun, tahun-tahun awal menstruasi sering kali menjadi masa-masa yang membingungkan, baik bagi anak maupun orang tua. Siklus yang tidak teratur, durasi yang berubah-ubah, atau bahkan absennya haid selama berbulan-bulan, bisa saja terjadi.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Anak Ketahui Seputar Menarche atau Haid Pertama

Namun, dalam banyak kasus, telat haid pada remaja adalah hal yang normal dan merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh terhadap perubahan hormon.

Mengapa siklus haid remaja sering tidak teratur?

Sebelum masuk ke penyebab spesifik, penting untuk memahami bahwa tubuh remaja sedang dalam masa "konstruksi". Sistem reproduksi mereka belum sepenuhnya matang.

Sumbu Hipotalamus-Hipofisis-Ovarium (sistem yang mengatur hormon reproduksi) sering kali membutuhkan waktu beberapa tahun setelah haid pertama untuk bekerja secara sinkron dan teratur. Inilah sebabnya dokter sering mengatakan bahwa ketidakteraturan haid pada 2-3 tahun pertama adalah hal yang wajar. Namun, di luar faktor kematangan organ reproduksi, ada beberapa faktor eksternal dan internal lain yang memicu kondisi ini.

1. Ketidakseimbangan hormon yang wajar

Seperti disinggung sebelumnya, penyebab paling umum dari telat haid pada remaja adalah fluktuasi hormon yang belum stabil. Tubuh anak perempuan sedang belajar untuk melepaskan telur (ovulasi) setiap bulan. Jika ovulasi tidak terjadi, maka haid pun bisa terlambat atau terlewat. Ini disebut siklus anovulasi, yang sangat umum terjadi di masa pubertas.

2. Stres fisik dan emosional

Dunia remaja penuh dengan tekanan, mulai dari tugas sekolah yang menumpuk, ujian, hingga drama pertemanan. Stres emosional ini dapat memicu kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon kortisol (hormon stres).

Kadar kortisol yang meningkat dapat menekan kerja hipotalamus, bagian otak yang mengatur siklus menstruasi. Akibatnya, sinyal untuk memulai haid tidak terkirim dengan baik, menyebabkan keterlambatan.

Baca juga: Siklus Haid 18 Hari, Apakah Normal atau Perlu Diwaspadai?

3. Aktivitas fisik yang berlebihan

Apakah anak Moms aktif dalam kegiatan olahraga intensif seperti atletik, balet, atau senam? Olahraga memang sangat baik untuk kesehatan. Namun, aktivitas fisik yang terlalu berat dan berlebihan bisa menyebabkan tubuh kekurangan energi untuk memproduksi hormon reproduksi. Kondisi ini sering disebut sebagai amenore atletik. Tubuh secara alami "mematikan" fungsi reproduksi sementara untuk menghemat energi bagi fungsi vital lainnya.

4. Perubahan berat badan yang drastis

Berat badan memiliki kaitan erat dengan siklus menstruasi. Jika remaja memiliki lemak tubuh yang terlalu sedikit, tubuhnya mungkin berhenti memproduksi estrogen yang cukup untuk memicu siklus haid.Sebaliknya, obesitas atau kenaikan berat badan yang tiba-tiba juga bisa memicu kelebihan estrogen, yang sama-sama bisa mengganggu siklus bulanan.

5. Pola makan dan nutrisi

Remaja gemar mengonsumsi makanan cepat saji atau melakukan diet ketat tanpa pengawasan. Kurangnya asupan nutrisi penting, terutama karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat, bisa membuat tubuh "stres" secara internal dan menghentikan siklus haid sebagai mekanisme pertahanan diri.

6. Penggunaan obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat yang mungkin dikonsumsi remaja bisa memengaruhi siklus menstruasi mereka, termasuk obat antidepresan tertentu, obat alergi, atau obat tekanan darah.

7. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Meskipun lebih jarang, telat haid yang kronis bisa menjadi tanda adanya kondisi medis seperti polycystic ovary syndrome (PCOS). PCOS adalah kondisi ketidakseimbangan hormon di mana ovarium memproduksi androgen (hormon pria) secara berlebihan. Selain haid tidak teratur, gejala lain yang mungkin muncul adalah pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh, serta jerawat yang parah.

Cara mengatasi telat haid pada remaja

Berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan bersama di rumah untuk membantu menormalkan siklus haid remaja.

1. Perbaiki pola makan dan gaya hidup

Ajaklah anak untuk mulai mencintai tubuhnya melalui makanan. Pastikan piring makannya berisi gizi seimbang. Zat besi, kalsium, dan vitamin B sangat penting untuk kesehatan reproduksi.Jika anak merasa perlu menurunkan berat badan, dampingi ia untuk melakukannya dengan cara sehat melalui olahraga teratur dan porsi makan yang wajar.

2. Kelola stres dengan baik

Bantu anak menemukan cara untuk rileks di tengah kesibukan sekolahnya. Ini bisa berupa mendengarkan musik, melukis, membaca buku, atau sekadar tidur siang yang cukup. Tidur yang berkualitas (8-9 jam sehari) sangat penting untuk mereset hormon tubuh remaja.

Baca juga: Penting! Ini Cara Mengelola Kecemasan pada Anak Remaja

3. Pantau siklus bersama

Ajak anak untuk mencatat siklus haidnya. Saat ini sudah banyak aplikasi pelacak menstruasi yang mudah digunakan. Dengan mencatat tanggal mulai dan selesai haid serta gejala yang dirasakan, anak bisa melihat pola yang terbentuk. Data ini juga akan sangat berguna jika nantinya Moms perlu berkonsultasi dengan dokter.

4. Evaluasi aktivitas fisik

Jika anak sangat aktif berolahraga, pastikan asupan kalorinya sebanding dengan energi yang dikeluarkan. Mungkin perlu ada penyesuaian jadwal latihan jika tubuhnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrem yang berdampak pada siklus haidnya.

Kapan harus ke dokter?

Meskipun ketidakteraturan adalah hal wajar, ada batasan di mana bantuan medis diperlukan. Moms sebaiknya mengajak anak Anda untuk berkonsultasi ke dokter kandungan jika:

1. Haid belum datang sama sekali padahal usia anak sudah mencapai 15 tahun (amenore primer).

2. Siklus haid tiba-tiba berhenti selama lebih dari 3 bulan berturut-turut setelah sebelumnya lancar.

3. Haid terjadi lebih sering dari 21 hari sekali atau lebih jarang dari 45 hari sekali.

4. Haid disertai nyeri tak tertahankan hingga mengganggu aktivitas sekolah.

Keterlambatan haid, pada umumnya bukan gejala gangguan kesehatan serius. Biasanya, penyebab telat haid pada remaja adalah faktor hormon. Meski begitu, Moms tetap perlu memantau perkembangan anak dan berkonsultasi dengan dokter apabila merasa ada indikasi masalah medis yang lebih serius. (MB/AY/WR/Foto: Freepik)