Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Menyapih Si Kecil adalah momen yang penuh perasaan, ada rasa lega, tapi juga rindu. Di saat bersamaan, tubuh Moms juga akan beradaptasi. Salah satu tantangan yang dirasakan adalah payudara yang terasa penuh, keras, bahkan bengkak dan nyeri setelah berhenti menyusui. Namun, no worries, ada cara mengatasi payudara bengkak karena tidak menyusui, lho.
Kondisi payudara bengkak karena tidak menyusui sangat wajar dan dialami banyak ibu. Ada langkah-langkah praktis yang bisa membantu meringankan ketidaknyamanan ini, Moms.
Kenapa payudara sakit saat berhenti menyusui?
Saat Moms memutuskan untuk berhenti menyusui, tubuh tidak langsung "memahami" bahwa produksi ASI perlu dihentikan. Payudara masih terus memproduksi susu seperti biasa, sementara Si Kecil sudah tidak lagi menyusu.
Akibatnya, ASI menumpuk di dalam jaringan payudara. Kondisi inilah yang menyebabkan payudara terasa penuh, tegang, keras, dan nyeri. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut engorgement atau pembengkakan payudara.
Apa yang terjadi di dalam payudara?
Produksi ASI dikendalikan oleh hormon prolaktin. Ketika bayi berhenti menyusu, sinyal permintaan terhadap ASI berkurang. Namun, penurunan produksi ASI tidak terjadi dalam semalam. Prosesnya butuh waktu beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung seberapa cepat proses penyapihan dilakukan.
Selama masa transisi ini, alveoli (kantong kecil penghasil susu di dalam payudara) masih terisi penuh. Tekanan yang menumpuk inilah yang menimbulkan rasa sakit, bahkan bisa disertai demam ringan.
Baca juga: 6 Perubahan pada Payudara yang Sering Dialami Ibu Hamil
Berapa lama payudara akan terasa bengkak?
Jika penyapihan dilakukan secara bertahap, ketidaknyamanan biasanya lebih ringan dan berlangsung sekitar 7-10 hari. Sementara itu, penyapihan mendadak cenderung membuat gejala lebih intens dan berlangsung lebih lama. Setiap tubuh berbeda, jadi bersabarlah dengan diri sendiri, Moms.
Cara mengatasi payudara bengkak akibat berhenti menyusui
Ada banyak cara untuk meringankan rasa tidak nyaman ini. Berikut ini langkah-langkah yang bisa Moms coba.
1. Lakukan penyapihan secara bertahap
Cara terbaik untuk mencegah pembengkakan parah adalah dengan menyapih secara perlahan. Kurangi satu sesi menyusui setiap beberapa hari, bukan menghentikannya sekaligus. Metode ini memberi waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri dan secara alami menurunkan produksi ASI.
2. Pompa atau perah ASI secukupnya
Ini bagian yang perlu dipahami dengan baik: memompa atau memerah ASI saat bengkak boleh dilakukan, tapi hanya sedikit, cukup untuk mengurangi tekanan dan rasa nyeri, bukan untuk mengosongkan payudara sepenuhnya.
Mengosongkan payudara sepenuhnya justru akan memberi sinyal pada tubuh untuk terus memproduksi ASI. Cukup keluarkan sedikit hingga rasa tidak nyaman berkurang.
3. Kompres dingin
Kompres dingin sangat efektif untuk meredakan pembengkakan dan rasa nyeri. Gunakan kantong es yang dibungkus kain bersih, atau kain yang dibasahi air dingin, lalu tempelkan pada payudara selama 15-20 menit.
Beberapa ibu juga menggunakan daun kubis yang didinginkan di lemari es. Letakkan daun kubis di dalam bra selama beberapa jam. Meskipun terdengar tidak biasa, metode ini cukup populer di kalangan ibu menyusui dan dipercaya membantu mengurangi produksi ASI serta meredakan bengkak.
4. Hindari stimulasi berlebihan
Hindari memijat payudara terlalu kuat atau terlalu sering memeriksa kondisinya. Stimulasi berlebihan bisa memicu produksi ASI lebih banyak, yang justru memperburuk pembengkakan.
5. Gunakan bra yang nyaman dan tepat
Kenakan bra yang memberikan dukungan baik tanpa terlalu ketat. Bra yang terlalu kencang bisa menyumbat saluran ASI dan meningkatkan risiko mastitis (infeksi payudara). Pilihlah bra berbahan lembut yang tidak menimbulkan tekanan berlebih.
6. Minum obat pereda nyeri jika diperlukan
Ibuprofen atau parasetamol bisa membantu meredakan nyeri dan peradangan selama masa penyapihan. Pastikan untuk mengikuti dosis yang dianjurkan dan konsultasikan dengan dokter jika Moms memiliki kondisi kesehatan tertentu.
7. Kurangi konsumsi makanan yang merangsang produksi ASI
Beberapa makanan dikenal dapat meningkatkan produksi ASI, seperti daun katuk dan oat. Selama proses penyapihan, sebaiknya kurangi konsumsi makanan-makanan tersebut untuk membantu tubuh secara alami memperlambat produksi susu.
Apakah berbahaya jika ASI tidak dikeluarkan saat menyapih?
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul, dan jawabannya tergantung pada seberapa banyak ASI yang tertahan dan bagaimana kondisi payudara Moms. Apabila produksi ASI banyak dan dibiarkan menumpuk terlalu lama tanpa dikeluarkan sedikit pun, ada beberapa risiko yang bisa terjadi:
1. Mastitis: Penumpukan ASI yang berlebihan bisa menyebabkan infeksi pada jaringan payudara. Gejalanya meliputi payudara yang sangat nyeri, memerah, terasa hangat saat disentuh, disertai demam di atas 38 derajat Celsius, dan tubuh terasa seperti flu. Jika mengalami gejala ini, segera hubungi dokter.
2. Abses payudara: Mastitis yang tidak ditangani bisa berkembang menjadi abses, kantong berisi nanah yang memerlukan penanganan medis.
3. Saluran ASI tersumbat: Kondisi ini terasa seperti benjolan keras yang nyeri pada payudara. Bisa diatasi dengan kompres hangat dan pemijatan lembut ke arah puting.
Jadi, apakah ASI perlu dikeluarkan semuanya? Tidak perlu dikosongkan sepenuhnya, tetapi mengeluarkan sedikit untuk meredakan tekanan adalah hal yang aman dan disarankan. Tujuannya bukan untuk menjaga produksi tetap berjalan, melainkan untuk mencegah ketidaknyamanan ekstrem dan komplikasi seperti mastitis.
Tubuh Moms dirancang untuk beradaptasi. Seiring waktu, tanpa ada permintaan dari bayi, produksi ASI akan berhenti dengan sendirinya. Proses ini biasanya selesai dalam beberapa minggu.
Baca juga: Mastitis pada Ibu Menyusui, Ini Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Kapan harus ke dokter?
Sebagian besar kasus pembengkakan payudara saat menyapih bisa diatasi di rumah. Namun, segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami:
- Demam di atas 38 derajat Celsius yang tidak kunjung turun.
- Payudara sangat memerah, panas, dan nyeri di satu area tertentu.
- Keluar nanah dari puting.
- Benjolan yang membesar dan tidak kunjung membaik setelah beberapa hari.
Gejala-gejala ini bisa menjadi tanda mastitis atau abses yang membutuhkan penanganan segera, termasuk antibiotik atau prosedur medis lainnya.
Itulah cara mengatasi payudara bengkak karena tidak menyusui.Tubuh butuh waktu untuk menyesuaikan diri, dan itu sepenuhnya normal. Dengan mengetahui cara mengatasi ini, maka Moms bisa menyapih dengan rasa aman. (MB/WR/Foto: Stefamerpik/Freepik)