Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Memompa ASI adalah salah satu cara terbaik untuk memastikan bayi Anda tetap mendapatkan nutrisi terbaik, meski Anda tidak selalu bisa menyusui langsung, Moms. Namun, setelah ASI berhasil dipompa, muncul pertanyaan yang hampir semua ibu pernah tanyakan: sebenarnya, berapa lama ASI bertahan untuk bisa diberikan setelah dipompa?
Pertanyaan ini penting—dan jawabannya bergantung pada beberapa faktor, termasuk cara penyimpanan, suhu ruangan, dan jenis wadah yang digunakan. Salah menyimpan ASI tidak hanya akan membuang hasil jerih payah Anda, tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan Si Kecil.
Berapa lama ASI bertahan?
Durasi ketahanan ASI setelah dipompa sangat dipengaruhi oleh tempat penyimpanannya. Berikut ini panduan umum yang direkomendasikan oleh para ahli laktasi dan organisasi kesehatan dunia, Moms.
Baca juga: Ibu Menyusui, Konsumsi 6 Makanan Ini untuk ASI Lebih Lancar
1. Di suhu ruangan
ASI yang baru dipompa dapat bertahan selama 4-6 jam pada suhu ruangan sekitar 16-29 °C. Namun, makin hangat suhu ruangan, makin cepat ASI mengalami pertumbuhan bakteri. Jika rumah Anda berada di daerah tropis dengan suhu yang cukup tinggi, sebaiknya langsung masukkan ASI ke lemari es setelah selesai memompa.
2. Di lemari es
ASI yang disimpan dalam lemari es dengan suhu sekitar 4 °C dapat bertahan hingga 4 hari. Untuk hasil terbaik, simpan ASI di bagian belakang kulkas—bukan di pintu—karena suhu di sana lebih stabil dan tidak terpengaruh oleh seringnya pintu dibuka dan ditutup.
3. Di freezer (dalam lemari es 1 pintu)
Jika Moms menggunakan lemari es satu pintu yang memiliki freezer di bagian atas, ASI bisa bertahan selama 2 minggu. Freezer jenis ini memang tidak mencapai suhu beku yang optimal secara konsisten.
4. Di freezer terpisah (deep freezer)
Untuk penyimpanan jangka panjang, gunakan freezer terpisah dengan suhu -18 °C atau lebih dingin. Dalam kondisi ini, ASI bisa bertahan hingga 6 bulan, bahkan beberapa sumber menyebutkan hingga 12 bulan meski kualitasnya mungkin akan sedikit berkurang seiring waktu, Moms.
Baca juga: Normalkah ASI Encer? Kenali Penyebab Utamanya, Moms!
Faktor yang memengaruhi ketahanan ASI
Selain tempat penyimpanan, ada beberapa hal lain yang perlu Anda perhatikan agar ASI tetap segar dan aman dikonsumsi bayi, yakni:
Kebersihan pompa ASI
Pastikan semua bagian pompa ASI—botol, corong, selang, dan katup—dicuci bersih dan disterilisasi secara rutin. Bakteri dari peralatan yang kurang bersih dapat mempercepat kerusakan ASI, bahkan dalam kondisi penyimpanan yang sudah tepat.
Wadah penyimpanan
Gunakan kantong ASI khusus atau botol kaca/plastik bebas BPA yang dirancang untuk menyimpan ASI. Hindari menggunakan kantong plastik biasa atau wadah yang tidak food-grade karena bisa mempengaruhi kualitas ASI.
Cara mengisi wadah
Jangan isi wadah ASI terlalu penuh. Sisakan ruang sekitar 2-3 cm di bagian atas karena ASI akan mengembang saat dibekukan. Isi setiap wadah dengan jumlah sekali konsumsi (biasanya 60-120 ml) agar tidak ada ASI yang terbuang sia-sia.
Label dan tanggal
Biasakan untuk selalu menuliskan tanggal dan jam pemompaan pada setiap wadah ASI. Ini akan membantu Anda menggunakan ASI yang paling lama disimpan terlebih dahulu (first in, first out).
Cara mencairkan ASI beku yang benar
Mencairkan ASI beku juga perlu dilakukan dengan cara yang tepat agar kandungan nutrisinya tetap terjaga, Moms.
Metode terbaik: Pindahkan ASI dari freezer ke lemari es sehari sebelum digunakan dan biarkan mencair perlahan selama 8-12 jam.
Metode cepat: Rendam wadah ASI dalam mangkuk berisi air hangat atau alirkan air hangat di atas wadah tersebut.
Yang perlu dihindari: Jangan mencairkan ASI menggunakan microwave karena panas yang tidak merata dapat merusak antibodi dalam ASI dan berpotensi membakar mulut bayi.
ASI yang sudah dicairkan dari freezer dan disimpan di lemari es sebaiknya digunakan dalam 24 jam. ASI yang sudah dicairkan tidak boleh dibekukan kembali.
Tanda-tanda ASI sudah tidak layak konsumsi
Memang tidak mudah mendeteksi apakah ASI masih layak hanya dengan melihatnya. Namun, ada beberapa tanda yang bisa Anda perhatikan, yaitu:
Bau asam yang menyengat: ASI segar memiliki aroma yang sedikit manis. Jika tercium bau asam seperti susu basi, kemungkinan besar ASI sudah rusak.
Tekstur tidak menyatu setelah dikocok: ASI yang disimpan memang akan terpisah antara lapisan lemak dan cairannya—ini normal. Namun jika setelah dikocok perlahan ASI tetap bergumpal atau teksturnya tidak normal, sebaiknya jangan diberikan ke bayi.
Warna yang berubah drastis: Sedikit perubahan warna (kuning, kebiruan) masih tergolong normal. Namun, jika warnanya terlihat sangat tidak biasa, lebih baik dibuang.
Jika Anda ragu, jangan ambil risiko. Keselamatan bayi selalu lebih penting daripada mempertahankan stok ASI.
Tips praktis memaksimalkan stok ASI perah
Bagi Moms yang aktif memompa ASI, berikut ini beberapa tips yang bisa membantu menjaga kualitas dan kuantitas stok ASI Anda.
Pompa secara rutin: Konsistensi frekuensi memompa membantu menjaga produksi ASI tetap stabil.
Simpan dalam porsi kecil: Ini mengurangi pemborosan karena Anda hanya mencairkan sebanyak yang dibutuhkan bayi.
Rotasi stok secara berkala: Gunakan ASI yang lebih lama disimpan terlebih dahulu agar tidak ada yang kedaluwarsa.
Gunakan cooler bag saat bepergian: Jika Anda harus memompa di luar rumah, cooler bag dengan ice pack bisa menjaga ASI tetap segar hingga beberapa jam.
Itulah jawaban atas pertanyaan berapa lama ASI bertahan setelah dipompa. Memompa dan menyimpan ASI mungkin terasa merepotkan di awal, tapi jika Anda sudah terbiasa, maka akan mudah prosesnya, Moms. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan, memahami batas waktu penyimpanan, dan selalu memprioritaskan keamanan Si Kecil. (MB/SW/Foto: Freepik)