BUMP TO BIRTH

Begini Posisi Pelekatan Menyusui yang Benar dan Efektif


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Menyusui merupakan salah satu pengalaman paling intim antara ibu dan bayi, tetapi tidak selalu terasa mudah di awal. Banyak ibu baru menghadapi tantangan yang sama: puting terasa sakit, bayi tampak rewel setelah menyusu, atau produksi ASI terasa tidak cukup. Sering kali, akar dari semua masalah ini adalah satu hal yang tampak sederhana tetapi sangat krusial: pelekatan menyusui yang benar.

Pelekatan yang benar bukan hanya soal kenyamanan ibu menyusui. Ini adalah fondasi dari seluruh perjalanan menyusui. Tanpa pelekatan yang efektif, bayi kesulitan mendapatkan ASI yang cukup, dan payudara Moms tidak mendapatkan stimulasi yang diperlukan untuk memproduksi ASI secara optimal.

Berikut ini panduan untuk ibu baru untuk pelekatan menyusui yang benar, mulai dari cara memosisikan bayi, tanda-tanda pelekatan yang tepat berdasarkan panduan WHO/UNICEF, cara melepas isapan dengan aman, hingga kapan saatnya meminta bantuan profesional. Simak penjelasannya berikut ini ya, Moms!

Apa itu pelekatan menyusui yang dalam dan efektif?

Pelekatan menyusui yang dalam (deep latch) terjadi ketika bayi mengambil sebagian besar areola—bukan hanya puting—ke dalam mulutnya. Ini penting karena ASI tidak diproduksi di puting, melainkan di jaringan payudara di balik areola. Ketika bayi hanya mengisap ujung puting, ia bekerja lebih keras untuk mendapatkan lebih sedikit ASI, sementara Moms merasakan nyeri yang tidak perlu.

Menurut WHO dan UNICEF, pelekatan yang efektif ditandai oleh empat hal utama:

1. Mulut bayi terbuka lebar, seperti menguap

2. Bibir bawah terputar keluar (tidak terlipat ke dalam)

3. Dagu menyentuh atau hampir menyentuh payudara

4. Lebih banyak areola terlihat di atas mulut daripada di bawah mulut bayi

Keempat tanda ini adalah checklist visual yang bisa Anda periksa setiap kali menyusui, terutama di minggu-minggu awal.

Baca juga: Bolehkah Menyusui Sambil Tiduran? Ini Manfaat dan Risikonya, Moms

Langkah nose-to-nipple: mulut terbuka lebar dan dagu menempel lebih dahulu

Salah satu teknik paling efektif untuk mendapatkan pelekatan yang dalam adalah metode nose-to-nipple (hidung ke puting). Teknik ini memastikan bayi mendekati payudara dari sudut yang tepat sehingga mulutnya terbuka selebar mungkin. Berikut ini cara melakukan teknik nose-to-nipple.

1. Posisikan tubuh bayi rapat dan sejajar

Perut bayi harus menghadap perut Moms—tidak membalik ke atas. Telinga, bahu, dan pinggul bayi membentuk satu garis lurus. Bayi yang diposisikan miring atau memutar kepalanya cenderung kesulitan menelan dan lebih mudah lepas dari payudara.

2. Sejajarkan hidung bayi dengan puting

Sebelum bayi menempel, pastikan hidungnya berada sejajar dengan puting—bukan mulutnya. Ini mendorong bayi untuk mendongak sedikit saat akan mengambil payudara, yang secara alami membuka mulutnya lebih lebar.

3. Biarkan kepala bayi sedikit menengadah

Kepala yang sedikit menengadah ke belakang memudahkan bayi mengambil lebih banyak areola bagian bawah ke dalam mulutnya. Hindari mendorong kepala bayi langsung ke depan, karena ini justru menyempitkan sudut bukaan mulut.

4. Tunggu mulut terbuka lebar, lalu arahkan dagu ke payudara

Saat mulut bayi terbuka lebar seperti menguap, segera arahkan—bukan puting ke mulut bayi, tapi dagu bayi ke payudara. Gerakan ini memastikan lidah bayi berada di posisi yang tepat untuk mengisap secara efektif.

Tips: Anda bisa merangsang bayi untuk membuka mulut lebar dengan menyentuh bibir atasnya dengan puting secara lembut. Tunggu sampai mulutnya benar-benar terbuka lebar sebelum mendekatkan bayi ke payudara.

Baca juga: Ini Nutrisi yang Dibutuhkan Ibu Menyusui agar ASI Lancar dan Menyehatkan

Tanda pelekatan benar pada mulut bayi, isapan, dan puting ibu

Setelah bayi menempel, lakukan pengecekan cepat menggunakan panduan visual berikut ini.

Tanda pelekatan yang benar

  • Mulut bayi: Terbuka lebar, seperti sudut 120–140 derajat
  • Bibir bawah: Terputar keluar, bukan terlipat ke dalam
  • Dagu: Menyentuh atau hampir menyentuh payudara
  • Areola: Lebih banyak terlihat di atas mulut daripada di bawah
  • Isapan: Lambat dan dalam, bukan cepat dan dangkal
  • Menelan: Terdengar atau terlihat secara berkala
  • Puting setelah menyusu: Keluar tetap bulat, tidak pipih atau berbentuk seperti lipstik.

Tanda pelekatan yang perlu diperbaiki

  • Pipi bayi tampak cekung saat mengisap
  • Terdengar bunyi "klik" atau "cep" berulang saat menyusu
  • Puting Moms keluar dalam bentuk pipih, gepeng, atau seperti lipstik
  • Moms merasakan nyeri yang menetap sepanjang sesi menyusui
  • Bayi tampak frustrasi, sering melepas payudara, atau tidak puas setelah menyusu.

Bunyi klik yang berulang, misalnya, sering kali menandakan bahwa lidah bayi tidak berada di posisi yang benar—lidah mungkin naik terlalu awal dan melepaskan vakum isapan. Ini bisa berarti bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup di setiap tegukan.

Cara melepaskan isapan dan mengulang pelekatan yang terasa sakit

Tidak semua pelekatan pertama berhasil sempurna—dan ini wajar terjadi. Yang penting adalah Moms tahu cara melepasnya dengan aman dan memulai ulang.

Cara melepas isapan dengan aman

Jangan pernah menarik bayi langsung dari payudara. Vakum yang diciptakan oleh isapan bayi cukup kuat untuk menyebabkan luka pada puting jika dilepas secara paksa.

Cara yang tepat:

1. Masukkan jari kelingking yang bersih ke sudut mulut bayi, di antara gusi atas dan bawah

2. Gerakkan perlahan ke arah dalam hingga Anda merasakan vakum terlepas

3. Setelah vakum terlepas, bayi akan melepas payudara dengan sendirinya.

Mengulang pelekatan

Setelah melepas isapan, jangan buru-buru. Ambil napas, betulkan posisi duduk Anda, dan mulai lagi dari langkah nose-to-nipple. Moms mungkin saja perlu mencoba 3–5 kali sebelum mendapatkan pelekatan yang nyaman, terutama di minggu-minggu pertama.

Jika setiap percobaan tetap terasa menyakitkan meski posisi sudah tampak benar, ini bisa menjadi sinyal bahwa ada faktor lain yang perlu dievaluasi, misalnya anatomi mulut bayi atau kondisi puting ibu.

Kapan perlu bantuan konselor laktasi, dokter anak, atau evaluasi tongue-tie?

Menyusui memang membutuhkan waktu untuk terasa alami, tetapi kenali tanda-tandanya yang memerlukan bantuan profesional segera, yakni:

Pada ibu:

  • Puting luka, berdarah, atau terasa terbakar bahkan setelah pelekatan diperbaiki
  • Payudara terasa penuh terus-menerus dan tidak terasa kosong setelah menyusui
  • Nyeri yang menetap sepanjang sesi menyusui, bukan hanya di awal.

Pada bayi:

  • Bunyi klik berulang saat menyusu
  • Bayi sangat mengantuk dan sulit dibangunkan untuk menyusu
  • Bayi tampak lapar terus-menerus meski sering menyusu
  • Popok basah kurang dari 6 kali per hari setelah ASI mature (hari ke-4 atau ke-5 ke atas)
  • Berat badan bayi tidak naik atau bahkan turun setelah usia 2 minggu.

Kapan perlu mempertimbangkan evaluasi tongue-tie (ankyloglossia)?

Tongue-tie adalah kondisi di mana frenulum (jaringan di bawah lidah) terlalu pendek atau kaku, sehingga membatasi gerakan lidah bayi. Ini bisa menyebabkan bayi kesulitan mengambil areola dengan baik, menghasilkan bunyi klik saat menyusu, dan membuat puting ibu terasa sangat nyeri.

Tanda yang perlu dievaluasi oleh dokter anak atau konselor laktasi bersertifikat (IBCLC):

  • Lidah bayi tidak bisa menjulur melewati bibir bawah
  • Ujung lidah tampak berbentuk seperti hati (heart-shaped) saat menangis
  • Pelekatan tidak bisa diperbaiki meski sudah mencoba berbagai teknik
  • Nyeri puting ibu terus berlanjut tanpa membaik.

Konselor laktasi bersertifikat (IBCLC) adalah tenaga profesional yang terlatih khusus untuk mengevaluasi dan menangani masalah menyusui. Jangan ragu untuk meminta bantuan mereka agar proses menyusui bayi bisa berlangsung lancar dan nyaman buat Anda dan Si Kecil, Moms.

Pelekatan menyusui yang benar memang butuh latihan, kesabaran, dan kadang sedikit bantuan dari orang yang tepat. Anda tidak harus menanggung rasa sakit demi menyusui, dan bayi Anda tidak harus berjuang untuk mendapatkan ASI yang ia butuhkan. Namun, jika Anda sudah mencoba berkali-kali tetapi masih mengalami kesulitan, konsultasikanlah dengan dokter anak atau konselor laktasi. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)