Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms tentu tak tega melihat Si Kecil menangis karena perutnya tak nyaman. Ya, kolik, kembung, diare, dan sembelit, adalah masalah pencernaan pada bayi yang sangat umum terjadi, terutama di tahun pertama kehidupan. Tak sedikit orang tua yang kemudian mencari solusi, dan salah satunya dengan pemberian probiotik untuk bayi.
Probiotik kini semakin populer di kalangan orang tua muda. Mulai dari yang berbentuk tetes hingga bubuk yang bisa dicampurkan ke susu, pilihannya melimpah di pasaran. Tapi benarkah probiotik aman dan efektif untuk bayi? Kapan sebaiknya diberikan, dan bagaimana cara memilih produk yang tepat?
Apa itu probiotik dan bagaimana cara kerjanya pada bayi?
Probiotik adalah mikroorganisme hidup, sebagian besar berupa bakteri baik, yang memberikan manfaat bagi kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Dalam sistem pencernaan manusia, terdapat triliunan bakteri yang membentuk ekosistem yang disebut mikrobioma usus. Keseimbangan mikrobioma ini berperan penting dalam pencernaan, sistem imun, bahkan suasana hati.
Pada bayi, mikrobioma usus masih dalam tahap pembentukan. Proses ini dimulai sejak persalinan, bayi yang lahir secara normal akan terpapar bakteri dari jalan lahir ibu, sementara bayi yang lahir melalui operasi sesar memiliki komposisi mikrobioma yang sedikit berbeda. Setelah lahir, ASI menjadi sumber utama bakteri baik untuk bayi.
Probiotik bekerja dengan cara memperkuat populasi bakteri baik di usus, menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya, dan mendukung fungsi lapisan usus agar tetap sehat. Pada bayi, hal ini berdampak langsung pada kenyamanan pencernaan dan kekuatan sistem imun.
Dua jenis bakteri probiotik yang paling banyak diteliti untuk bayi adalah:
- Lactobacillus reuteri: sering digunakan untuk mengatasi kolik dan refluks.
- Bifidobacterium longum subsp. infantis: dikenal mendukung kesehatan usus bayi yang mendapat ASI.
Baca juga: 8 Manfaat Probiotik untuk Kesehatan Pencernaan Bayi
Manfaat probiotik untuk bayi berdasarkan kondisi pencernaan
Penelitian tentang probiotik untuk bayi terus berkembang. Berikut adalah manfaat probiotik yang sudah didukung oleh bukti ilmiah yang cukup kuat:
1. Apakah probiotik efektif untuk mengatasi kolik pada bayi?
Kolik, kondisi yang bisa menyebabkan bayi sehat menangis lebih dari tiga jam sehari, lebih dari tiga hari seminggu, memengaruhi sekitar 10–40% bayi di seluruh dunia. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal BMJ (2018) menunjukkan, pemberian Lactobacillus reuteri DSM 17938 dapat mengurangi durasi tangisan pada bayi yang mendapat ASI secara signifikan.
Penting untuk dicatat bahwa efektivitas ini lebih terbukti pada bayi yang mendapat ASI dibanding susu formula.
2. Bisakah probiotik membantu bayi dengan diare akut?
Ya. Beberapa strain probiotik, terutama Lactobacillus rhamnosus GG dan Saccharomyces boulardii, telah terbukti mempersingkat durasi diare akut pada anak-anak, termasuk bayi di atas usia enam bulan. Menurut European Society for Paediatric Gastroenterology (ESPGHAN), probiotik dapat digunakan sebagai terapi pendukung, bukan pengganti rehidrasi oral.
3. Apakah probiotik membantu sembelit pada bayi?
Bukti untuk kondisi ini masih terbatas dan beragam. Beberapa penelitian menunjukkan manfaat dari Bifidobacterium Lactis, namun belum ada konsensus yang kuat. Jika bayi Moms mengalami sembelit, konsultasi dengan dokter anak tetap menjadi langkah pertama yang paling tepat.
4. Manfaat probiotik untuk sistem imun bayi
Sekitar 70% sistem imun tubuh berada di usus. Dengan mendukung keseimbangan mikrobioma sejak dini, probiotik diyakini dapat membantu mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan atas dan alergi. Sebuah tinjauan sistematis dalam Cochrane Database (2015) menyimpulkan bahwa probiotik dapat mengurangi insiden dan durasi infeksi saluran pernapasan pada anak-anak.
Baca juga: Agar Anak Aktif dan Tidak Mudah Sakit, Ini Manfaat Probiotik Alami untuk Anak
Apakah semua bayi memerlukan probiotik tambahan?
Jawabannya adalah tidak selalu. Bayi yang mendapat ASI eksklusif umumnya sudah mendapat asupan bakteri baik yang cukup. ASI mengandung prebiotik alami (HMO/Human Milk Oligosaccharides) yang mendukung pertumbuhan Bifidobacterium di usus bayi.
Lantas, kapan probiotik tambahan mungkin dipertimbangkan?
- Bayi yang lahir melalui operasi sesar, karena tidak terpapar bakteri jalan lahir ibu.
- Bayi yang mendapat antibiotik, baik langsung maupun tidak langsung (melalui ibu yang menyusui).
- Bayi prematur, yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi usus seperti necrotizing enterocolitis (NEC).
- Bayi dengan gejala kolik atau diare persisten yang tidak membaik dengan penanganan biasa.
- Bayi yang mendapat susu formula, terutama jika formula tidak diperkaya probiotik.
Perlu diingat, pemberian probiotik pada bayi baru lahir, terutama yang prematur atau memiliki kondisi medis tertentu, harus selalu atas rekomendasi dokter. Sistem imun bayi masih sangat rentan, dan tidak semua strain probiotik aman untuk semua kondisi.
Cara memilih strain dan bentuk probiotik yang sesuai usia
Tidak semua probiotik diciptakan sama. Memilih produk yang tepat sangat bergantung pada usia bayi dan kondisi yang ingin ditangani.
Strain probiotik mana yang paling aman dan efektif untuk bayi? Berikut panduan singkatnya berdasarkan kondisi Si Kecil:
- Kolik: Lactobacillus reuteri DSM 17938:
- Diare akut: Lactobacillus rhamnosus GG, S. boulardii.
- Dukungan imun umum: Bifidobacterium longum subsp. infantis.
- Bayi prematur (hanya dengan pengawasan dokter): Bifidobacterium infantis, L. reuteri.
Probiotik untuk bayi tersedia dalam beberapa bentuk, yaitu:
- Tetes cair: Paling mudah diberikan pada bayi newborn hingga usia 12 bulan. Bisa diteteskan langsung ke mulut atau dicampurkan ke ASI perah.
- Bubuk sachet: Cocok untuk bayi yang sudah mulai makan MPASI. Bisa dicampurkan ke makanan atau minuman.
- Kapsul yang dibuka: Untuk bayi lebih besar; isi kapsul dicampurkan ke makanan.
Hindari mencampurkan probiotik ke dalam air panas atau susu formula yang baru dibuat dalam keadaan panas, karena suhu tinggi dapat membunuh bakteri hidup di dalamnya.
Aturan pemberian dan tanda bayi perlu diperiksa dokter
Dosis dan frekuensi pemberian probiotik berbeda-beda tergantung produk dan kondisi bayi. Aturannya secara umum:
- Ikuti petunjuk pada kemasan atau anjuran dokter.
- Berikan secara konsisten, manfaat probiotik biasanya terlihat setelah 2–4 minggu pemberian rutin.
- Mulai dengan dosis kecil, terutama jika bayi baru pertama kali mendapat probiotik, untuk memberi waktu tubuhnya beradaptasi.
- Beberapa bayi mungkin mengalami sedikit kembung atau perubahan pola buang air besar di minggu pertama, ini umumnya normal dan akan mereda.
Hal penting yang Moms perlu ingat, probiotik bukan obat, dan ada kondisi yang membutuhkan penanganan medis segera. Segera konsultasikan ke dokter anak jika bayi Anda mengalami:
- Diare yang berlangsung lebih dari 24 jam atau disertai darah
- Demam tinggi (di atas 38°C pada bayi di bawah 3 bulan)
- Bayi menolak makan atau tanda-tanda dehidrasi (mulut kering, mata cekung, menangis tanpa air mata)
- Berat badan tidak naik secara signifikan
- Ruam, bengkak, atau reaksi alergi setelah pemberian probiotik
- Tangisan yang tidak biasa dan tidak mereda.
Probiotik untuk bayi bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat, jika digunakan dengan tepat, untuk kondisi yang tepat, dan dengan produk yang tepat. Probiotik bukan pengganti ASI, bukan pengganti obat dari dokter, melainkan pendukung yang membantu sistem pencernaan dan imun bayi berkembang dengan lebih baik. (MB/WR/RF/Foto: Freepik)