Type Keyword(s) to Search
ASK THE EXPERT

Gejala Delta atau Omicron? Ini Bedanya Menurut Dokter

Gejala Delta atau Omicron? Ini Bedanya Menurut Dokter

Dijawab oleh dr. Ronald Irwanto, Sp.PD-KPTI, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik & Infeksi, RS Pondok Indah - Puri Indah dan RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.

Kasus COVID-19 kini dikabarkan melandai selama bulan Maret ini, tetapi jumlah yang positif masih cukup banyak dan kita tentunya tetap tidak boleh lengah. Ya, serangan varian Omicron memang tidak main-main nih, Moms.

“Penyebaran varian Omicron sangat cepat. Omicron memiliki growth advantage dibandingkan varian Delta, yaitu peningkatan kasus yang signifikan atau lebih menular,” jelas dr. Ronald Irwanto, Sp.PD-KPTI, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik & Infeksi, RS Pondok Indah - Puri Indah dan RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.

Lalu, apa sih perbedaan gejala Omicron dengan Delta? Benarkah gejala Omicron lebih ringan? Untuk menjawabnya, yuk simak tanya jawab M&B dengan dr. Ronald sang pakar infeksi.

T: Apa perbedaan gejala antara varian Delta dan Omicron?

J: WHO mengeluarkan satu gambaran mengenai bagaimana COVID-19 secara umum. Dari situ diketahui bahwa COVID-19 punya 3 stadium: non-severe, severe, dan critical. Baik varian Alfa, Beta, Gama, Delta, Omicron, atau dengan influenza sekalipun, itu semua gejalanya sama dan sulit dibedakan secara klinis. Pembedanya ada di stadium-stadium tersebut.

Kalau gejala umumnya adalah demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, hilang penciuman, dan atau sesak napas. Tidak ada batuk Omicron, batuk Flu, batuk Delta, batuk Alpha, tidak bisa dibedakan. Jangan terpengaruh isu Omicron batuknya ringan, kalau Delta batuknya kering, karena semua gejalanya hampir sama.

Makanya di zaman seperti ini kalau sudah ada batuk, pilek, sakit tenggorokan, itu sebaiknya langsung swab karena dokter juga tidak bisa membedakan ini COVID-19 atau bukan.

T: Bagaimana kita tahu Omicron atau Delta yang menyerang kita?

J: Kalau dibedakan dari gejala, sudah pasti tidak bisa. Omicron atau Delta itu kalau mau dikonfirmasi harus melakukan pemeriksaan genome sequencing untuk dilihat genome-nya, baru kita bisa tentukan ini Omicron atau Delta. Tidak bisa dilihat dari gejalanya saja. Pengobatannya juga sama saja, secara protokol tidak ada perbedaan pengobatan, baik untuk Omicron, Delta, dan varian lainnya. Penanganan COVID-19 sama, apa pun variannya.

T: Apa saja gejala Omicron dan Delta di tiap stadium?

J: Ada stadium non-severe, ini bisa tidak bergejala atau asimtomatik atau bergejala tapi ringan. Stadium severe yang gejalanya saturasi oksigen rendah (<90%), ada gejala pneumonia, dan ada gangguan napas yang cukup parah. Terakhir ada stadium critical, di mana pasiennya sudah membutuhkan perawatan penunjang hidup, ada acute respiratory distress syndrome, sepsis, dan septic shock.

T: Gejala Omicron lebih ringan dibanding Delta?

J: Kecenderungan Omicron atau severity, dampak beberapa penyakitnya lebih ringan dibanding Delta. Sehingga di sini kalau bicara prognosis atau kemungkinan sembuh, Omicron itu bisa jadi lebih baik daripada Delta. Namun sekali lagi saya ingatkan, kita belum bisa melepas awareness kita terhadap Omicron. Bukan berarti mentang-mentang Omicron lalu jadi santai saja, tidak bisa begitu.

Memang di populasi kebanyakan, Omicron lebih ringan dibandingkan Delta, kesembuhan dan prognosis lebih baik, tetapi belum bisa kita lepas awareness kita karena Omicron masih bisa menyebabkan kondisi berat.

T: Benarkah Omicron tidak ada anosmia?

J: Anosmia adalah hilangnya indra penciuman, dan Omicron tidak ada anosmia ini tidak benar ya, karena banyak juga pasien Omicron atau tersangka Omicron yang mengalami anosmia. Jadi kita tidak bisa bilang, “Kalau dia tidak anosmia, berarti dia Omicron” tidak bisa begitu, ya. Gejala semua varian COVID-19 ini sama, dan yang terinfeksi Omicron juga bisa anosmia. Untuk memastikan varian harus lewat swab, bukan dari anosmia atau tidak.

T: Benarkah Omicron bisa menyebabkan peradangan jangka panjang?

J: Apa pun varian penyebabnya, COVID-19 adalah penyakit yang bersifat self-limiting disease atau bisa sembuh sendiri, nanti virusnya hilang sendiri. Hanya bagi mereka yang mengalami kondisi severe akan mengalami peradangan hebat di saluran napas, itu yang berbahaya.

Bahkan setelah virus penyebab COVID-19 itu sudah tidak ada, kalau peradangannya belum selesai maka kondisi pasien masih bisa terus memburuk. Namun, sebagian besar virusnya hilang, peradangannya juga ikut hilang, ada juga sebagian kecil orang yang peradangannya masih terus terjadi. (M&B/Tiffany Warrantyasri/SW/Foto: Benzoix/Freepik, Dok. RS Pondok Indah)